Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Biola

Gambar
Hatiku biola Yang senarnya dijalin dari langkah-langkah seekor ulat sutera Sedang kau ingin berbahagia Dengan suara yang kuhasilkan Lantas kau mulai menggesekku dengan sebuah samurai perawan Jangankan lantunan Karena kau hanya akan mendengar rintihan -Kamar, menyampaikan makna-  

Bisa Apa

Ingin kucipta sebait lagu Untuk dirimu Tapi tak kuasa Sebab jemariku terlalu kaku menggesek biola Sebab jemariku terlalu kaku memetik senar gitar Ingin kulukis di atas kanvas Gurat wajahmu yang indah itu Tapi tak mampu Sebab warna ini telah memudar Sedang kuasku tak lagi lihai berputar Dan... Aku bisa apa? Entah itu untuk melengkapimu Entah itu untuk mengisi hidupmu Dan... Aku bisa apa? Adakah kekuranganku bisa kau terima sebagai sebuah Kebisaan ?

Menua

Gambar
Kelak jika kau tua Maukah kupapahkan jalanmu Kupegangi jemarimu yang bergetar Sedikit tremor Kerut karena menua Kupegangi engkau Jika aku bersamamu -sebuah sore di belakang lelaki tua-

Menggadai Kepala

Aku ingin menggadai kepala Kepada Sang Empunya kepala Di negeri kami, para manusia Kepala adalah lambang kehormatan Termahal Terfitrahkan Aku ingin menggadai kepala Kepada Sang Empunya kepala Walau aku tahu Ia enggan menerima Sebab dunia seluas ini pun tak ada nilai di mataNya Apalagi cuma aku Apalagi cuma kepalaku Yang dipenuhi dengan pikiran dan masalah ini Aku ingin menggadai kepala Seberapa saja asal Sang Empunya suka Kalau aku serahkan ini kepala Sudilah kiranya Sang Empunya memperbaiki Membersihkan semua hitam di dalamnya Dan mengambil semua masalah di dalamnya Sudilah kiranya

Ratu Kecil

Aku hanyalah ratu kecil dari jutaan koloni Yang menghiasi sarang kehidupanmu Koloni-koloni nyata Koloni-koloni maya Mereka bersamamu Aku hanyalah ratu kecil Dari jutaan koloni dunia Tapi izinkan aku menjadi ratu kecil Yang hanya menguasai hatimu seorang Akulah ratu kecil...

Tuhanku, Peluklah Aku

Tuhanku, Peluklah aku Sebab aku tengah butuh dekapan Dari semua rasa khawatir yang tengah menekan Tuhanku, Peluklah aku Ku tengah takut, khawatir, meragu Walaupun ku tahu Engkau pasti sudah tahu Tuhanku, Peluklah aku Untuk sekedar memberi keyakinan padaku Bahwa Engkau yang akan selesaikan semua ini Tuhanku, Peluklah aku Aku hanya menginginkan satu tempat yang kokoh untuk bersandar Sehingga aku tak goyah Karena ku yakin sandaranku tak akan roboh Tuhanku, Peluklah aku...

Melukis Makna

Aku ingin melukis makna Dalam lembaran-lembaran putih Dari ribuan kata Menjadi pesan dengan nafas Bergeraklah ia ke setiap mata Bergeraklah ia ke setiap telinga Menyusuplah ia di rongga jiwa anak manusia Hidup… Dan bernyawa… Menggerakkan hati dan pikiran Untuk berbuat kebajikan Aku ingin melukis makna Lebih dari sekedar jalinan kata Jadilah ia lidah dari apa yang tak bisa ku katakan Jadilah ia tangan dari apa yang tak sempat kujamah Jadilah ia kaki dari apa yang tak sempat kutapaki Ia kata Dengan makna Aku ingin melukisnya

Engkau Kata

Engkau Kata Yang menari bersama jemari Yang mengalir bersama jiwa Jadilah engkau pemberat amalku nanti Berikanlah kesaksian yang indah Di hadapan Tuhan yang menyaksikan segalanya Bahwa setiap bagian dari dirimu telah kupergunakan Semampuku Untuk kebaikan Engkau Kata Jadilah penghias hidup Yang membuat kelabu menjadi merah jambu Engkau Kata Jadilah penghias amal Yang membuat langkahku ringan menuju surga-Nya

Gambar Diri

Gambar
Itu pertama kalinya aku melihat gambar diri seseorang kemudian merasa ada sesuatu yang lekat dalam pikirku. Aku selalu tahu gambar diri yang disebut foto itu tak selalu jujur. Kemudian kepada gambar diri seseorang itu ingin kucekoki ia dengan banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin sudut pengambilan, cahaya, komposisi dan warna seolah-olah membentuk sebuah titik koordinat untuk aku jatuhi rasa. Bagaimana bisa benda dua dimensi itu meliuk-liuk dalam kepalaku esok harinya, keesokannya lagi dan sampai hari ini. Dan selanjutnya siluet seseorang itu pun aku sebut gambar diri. Bukan orang ini.

Lukisan

Engkau adalah lukisan masa depan yang tersusun dari kepingan masa lalu Dari sisa retakan cat yang telah lama mengering karena kutinggal terlalu lampau Ditatapnya kanvas putih yang kosong Harapannya ia boleh sekejap saja menempel pada kanvas Memberi warna kepadanya Agar ia hidup Sedang kuas-kuas telah mengering Tak kuasa lagi ujung bulunya menggariskan warna Seperti saat itu, saat ia menggamit warna untuk dibelaikannya pada kanvas Kuas, cat dan kanvas telah beku Bersama waktu yang membelenggu mereka

Kelinci Dalam Hati

Gambar
Ada kelinci melompat-lompat dalam hati Disundulnya rona merah sampai ke pipi Muka panas, sampai tak bisa mendongak lagi Ada kelinci berlari-lari di dalam hati Ditariknya urat bibir sampai tersungging Gigi rasa beku, sampai enggan mengatup lagi Ada kelinci menari-nari dalam hati Digelitikinya sarafku sampai mati geli Terbahak-bahak, sampai tak mampu aku berlagu #baru belajar buat puisi 'manis' #mencoba belajar dari Sapardi Djoko Damono

Halalkan Aku, Ya Rabb...

Gambar
Katanya, Yang membedakan manusia dengan hewan adalah PERNIKAHAN Manusia dan hewan sama-sama punya nafsu Manusia dan hewan sama-sama punya rasa suka Manusia dan hewan sama-sama bisa mencintai dan menyayangi Tapi hewan tidak menikah, mereka hanya berkawin Jika pernikahan begitu suci Ianya membuat aku menjadi halal Maka halalkan aku Ya Rabb... Halalkan aku untuk bisa menatap wajahnya Sehingga tak lagi menjadi zina mata Seperti halnya ketika ia belum halal bagiku Melihatnya berkali-kali akan menjadi dosa bagiku Sehingga setan tertawa-tawa karena berhasil menggodaku Halalkan aku untuk berpikir tentangnya Memikirkan bagaimana aku bisa berbakti kepadanya Sehingga tak menjadi zina pikiran Sangat disayangkan memori otak ini Memikirkan hal-hal yang tidak Engkau halalkan Halalkan aku untuk menyenangkan hatinya Jika itu menjadi ibadah Sebagai wujud cinta dan ketaatanku pada-Mu jua Jika senyumnya merngankan langkahku untuk bertemu dengan-Mu Maka halalkan aku ya Rabb... ...

Wahai Lelaki yang Lembut Hatinya

Gambar
Wahai lelaki yang lembut hatinya... Siapapun engkau yang aku tak tahu dimana Siapapun engkau yang akan, sedang atau bahkan telah Allah kirimkan Seseorang dalam impian Semoga engkau hadir untuk menjadi imamku Wahai lelaki yang lembut hatinya Jika engkau adalah orang yang Allah kirimkan untukku Izinkan aku menjadi yang sangat spesial untukmu Satu-satunya bagimu Dan engkau satu-satunya bagiku Wahai lelaki yang lembut hatinya Semoga kelembutan hatimu mengalahkan segala ego dan kerasku Semoga kelembutanmu bukan karena engkau tak tegas Tapi hatimu yang penuh ketakwaan dan takut terhadap Allah Menjadikannya lembut Wahai lelaki yang lembut hatinya Engkau, engkau yang kusebut dalam doaku Engkau yang kupinta pada Allah Engkau yang membuatku merindu sangat dalam Semoga engkau membawaku semakin cinta kepada-Nya Wahai lelaki yang lembut hatinya... Aku .................... mu.

Being Legend and Make Legend

Gambar
Tertatih kami meraba Dalam setiap asa yang kami punya Tidaklah kami makhluk sempurna Hingga luput dari salah dan dosa Harapan Mimpi Dan Kenangan itu melebur menjadi satu Menyisakan bait-bait indah Dalam lembar hidup kita Mungkin dulu hitam dan kini memutih Ataukah yang dulu putih kini menjadi hitam Sejarah dan cerita ini Layaknya gulungan film Memutar tiap detik yang kita ciptakan bersama Bersama aku Bersama dia Atau bersama apa saja Tak mudah cara kita dipertemukan Seharusnya tak mudah juga kita dipisahkan Ini saudaraku Dan cerita kami

Mata Manusia

Gambar
"Semua mata manusia sehat" Ini yang selalu kuungkapkan ketika aku merasa ketidakadilan dan ketidakbenaran datang menghampiri Kawanku, semua mata manusia sehat Sekalipun ia rabun mines 6 Silindris Atau katarak sekalipun Matanya pasti bisa melihat kebenaran Selain mata yang sepasang itu, manusia kan punya mata hati yang bisa melihat kebenaran sesungguhnya Jadi nggak usah takut, kalau kamu memang orang baik pasti banyak yang memihak kepadamu Selama kamu melakukan yang benar!

Bukan Sebuah Bukan

Kalian temanku bukan? Hah? Bukan? Ya mungkin memang bukan Karena seorang teman selayaknya menerima temannya dalam keadaan apapun Teman? What friend are for? For hurting each other? Memang tidak semua teman buruk Tapi kalau begini aku rasa tak berteman Kalau kau hanya ingin terkenal Kukatakan Aku Bukan Artis Kalau kau butuh aku sebagai media promosi Kukatakan, apa kau pikir aku spanduk rentang di jalanan? Atau papan iklan? Kalau kau butuh aku sebagai wujud eksistensimu Kukatakan, Aku Bukan 'Alat' Dan Kalau kau terus saja lebih menyayangi orang lain Ya sudahlah, bukankah kita menjadi tidak layak dikatakan sebagai teman? Daripada melukai hati Lebih baik berhati-hati

Berhakkah Engkau Menilaiku?

Berhakkah engkau menilaiku? Menilai aku dari setiap kulit, pori atau hanya hembusan nafas belaka? Silahkan! Silahkan nilai dari fisikku Aku hanya seonggok daging yang bisa bergerak Dengan ruh yang diberikan tuhanku Aku hidup Nilailah aku dari seonggok daging ini Yang kelak hanya akan menjadi bangkai SAMA SEPERTIMU Kita sama-sama akan menjadi bangkai Daging kita sama-sama jadi santapan cacing tanah Berhakkah kau menilaiku? Silahkan nilai dari sifatku Aku hanya sesosok manusia Apa kau tau manusia? "Makanu Nisyaan".. Tempatnya lupa! Aku bukan seperti Muhammad SAW yang sempurna Lantas menjadi kekasih-Nya Al-Ma'shum? Yang terpelihara dari dosa? Uswatun Hasanah? Suri tauladan yang baik? Itu bukan aku, SAMA SEPERTIMU Makhluk yang menjadi incar-incaran setan untuk diundang ke neraka Makhluk yang senantiasa berbuat salah walau tahu itu salah Berhakkah kau menilaiku? Aku ini ciptaan Allah Sama sepertimu Makhluk yang lemah, yang senantiasa bergantung p...

Dua Pundak

Pundak ini cuma dua Tak ada tambah Tak ada kurang Yang ditimpakan di pundak ini Sebuah tanggung jawab Dan sedikit masalah Pundak ini cuma dua Kanan dan kiri Raga ini juga tergantung padanya Lelah ia, lelahlah raga Sakit ia, sakitlah raga Pundak ini cuma dua Sudah ada luka Dan jangan kau tambahi lagi dengan luka berkoreng itu Pundak ini cuma dua Tuhan tak kirimkan pundak ekstra Tuhan tak ciptakan pundak yang spesial Tuhan tak hadiahkan pundak yang istimewa Pundakku cuma dua Bukan yang bisa menarik kereta Cukuplah bebanku satu Dan bebanmu juga satu Jangan tambahi lagi bebanmu itu Karena pundak ini cuma dua

Tanpa Rasa

Rangka tubuh seketika lumpuh Air mata membeku sudah Bunyi nafas satu-satu Menyatu dengan denting pilu Akulah dedaunan di musim gugur Kering tak dilirik, gugur tak dilihat Akulah api di tengah badai matahari Marak tak disuka, padam tak dirasa Biar kehidupan kosong tak bernyawa Denting pilu temani kesepian jiwa Sudah hidup tak ada warna Sudah hancur tak ada guna Lalu lalang manusia di penghujung senja Menutup cerita yang biasa saja

Jika Hujan Turun Lagi (Matahari Pulang II)

Dulu aku pernah berharap matahari pulang Menyisakan sedikit cahayanya Untuk memberiku sebuah kehidupan Kata mereka matahari sudah pulang Tapi aku diam saja tengkurap tak berdaya Nanti jika hujan turun Kabari aku, Kawan Aku ingin menari bersama mendung Dan kelabunya awan Sembari menunggu pelangi Aku akan segera berlari Terlelap lagi dalam mimpi Nanti jika hujan turun lagi Panggil aku, Kawan Aku ingin merasakan hantaman hujan Yang membuat syarafku tersadar Bahwa aku ini, Kecil… Tak boleh banyak bermimpi Aku takut melihat matahari Sinarnya yang dulu cerah kini mengganas Siap membuatku kering dan tak berdaya Dan bila nanti hujan tak pernah turun lagi Kubur aku dalam kehampaan Bersama asa yang kosong