Sabtu, 20 April 2019 Di hari kedua konferensi ini kita nggak niat lagi lari pagi. Bukan karena trauma, tapi memang kita nggak siap deng...

Sabtu, 20 April 2019

Di hari kedua konferensi ini kita nggak niat lagi lari pagi. Bukan karena trauma, tapi memang kita nggak siap dengan udara dinginnya. Padahal saat itu udah penghujung winter bahkan harusnya udah menuju summer. 
Efek dari kenekatan kita di hari sebelumnya adalah kita terkena mimisan dalam.
Jadi di tengah-tengah konferensi hari pertama kemarin, kok kita ngerasa pangkal hidung kita tegang banget dan itu sakit. Pengen ngupil tapi malu... Akhirnya pas sesi break kita balik ke kamar hotel untuk ngebersihin itu dan memang isinya udah darah semua :'(

Baca part sebelumnya Turkey Day 2 : Konferensi We Are All Mary Part. I 

Tips #1 : Kalau nggak terbiasa sama cuaca dingin, jangan lupa pakai masker untuk nutupin hidung dan mulut. Hidung itu kan lalu lintasnya udara untuk nafas, jadi kalau lalu lintasnya dingin banget, efeknya bisa mimisan.

Tim "Tetap Hits Saat Nunggu Lift"

Jadi setelah Subuhan, kita lebih milih di dalam kamar sambil nyiapin pakaian untuk konferensi. Namanya juga cewek yaa, apalagi kalau bukan urusan setrika-menyetrika. Kita memang bawa setrika sendiri, tapi syukurnya di hotel udah tersedia seperangkat setrika sak mejanya lengkap.
Sambil (masih mencoba) nonton program TV Turki. Mungkin yang agak bisa ngerti adalah nonton kartun Mr. Bean (kan memang Mr. Bean nggak ngomong, ucuul~) atau nonton program masak-masak. Ya pokoknya jangan yang banyak dialog lah. Sempat juga nonton kayak Dr. OZ nya Turki, tapi tetep aja nggak ngerti hahaha~ 
Eh tapi disini aku sadar sesuatu, orang Turki tuh mengucap Masya Allah dan Insya Allah udah kayak bahasa ngobrol sehari-hari. Jadi jangan heran kalaupun gayanya nggak Islami banget (ukuran Indonesia yah) tapi lisannya lancar mengulang-ngulang kalimat thayyibah.

Baca cerita sebelumnya di >  Turkey Day 1 : Departure Jumat, 19 April 2019 Tengah malam. Di antara kekacauan jam kerja tubuh yan...

Baca cerita sebelumnya di > Turkey Day 1 : Departure

Jumat, 19 April 2019

Tengah malam.
Di antara kekacauan jam kerja tubuh yang mulai berubah dan kami yang kelelahan setelah 23 jam perjalanan, selesai makan malam dan beres-beres barang kamipun tertidur.
Iya, bukan tidur tapi tertidur *hehehe~

Sekitar jam 2 aku terbangun, teringat belum sholat Maghrib dan Isya.
Dengan setengah kesadaran dan masih terhuyung-huyung, aku jalan ke kamar mandi. Mulanya cuma cuci muka di wastafel, ya bersih-bersih sederhana lah. Walaupun gak ngerti ini bersih-bersih sebelum tidur atau setelah bangun tidur? :D
Karena butuh wudhu, akupun mencari keran lain. Cuma ada di bathtub dengan fitur 1 keran bawah, 1 shower level sedang yang mobile dan 1 shower utama. Karena emang belum explore kamar mandi, jadi di antara setengah kesadaran akupun otak-atik semacam tombol pengaturnya. Dan tiba-tiba...

BYUR!!! 

Oke, fine! Tengah malam, musim dingin, lupa nge-set pemanas air dan kesiram shower utama! Nicee~ -_-

Cerita sebelumnya lihat  Prolog : A Call From Turkey Kamis, 18 April 2019 00.30 WIB Kami sudah berada di dalam pesawat Qatar Airway...

Cerita sebelumnya lihat Prolog : A Call From Turkey

Kamis, 18 April 2019
00.30 WIB

Kami sudah berada di dalam pesawat Qatar Airways dengan nomor penerbangan QR 955 tujuan Doha, Qatar.

Setelah sesaat lalu menyempatkan diri videocall dengan orangtua di rumah. Sementara orang rumah masih sibuk mengurus Pemilu karena ayah dan adik petugas KPPS sedangkan mamak jadi saksi resmi. Yes, this is election day.

Pikiranku melayang kepada perjalanan seharian ini.
Pagi-pagi aku berberes kamar sekaligus packing. Agak repot pas packing karena belum pernah traveling jauh dengan kondisi iklim yang berbeda. Mau bawa baju tebal, khawatir gak muat. Mau bawa yang tipis juga khawatir dingin. Jadi aku bawa ngepas untuk 7 hari plus 1 pasang yang buat dipake berangkat

Tips #1 : Jangan bawa terlalu banyak pakaian untuk traveling. Bawa secukupnya kalau bisa yang gampang mix and match atau multifungsi

Untuk sepatu nih amvyun. Aku sampe bawa 3 jenis. Sport shoe (alesannya biar ringan, tapi ternyata gak oke buat di tempat dingin), wedges (untuk konferensi aja) dan boots (ini yang paling berfaedah dan dipakai terus disana)

Tips #2 : Pilih sepatu yang bisa cover seluruh kaki. Usahakan jangan yang ada heelsnya karena kaki jadi gampang capek

Setelah selesai dengan kerempongan packing, aku bersih-bersih diri untuk ke tempat nyoblos. Kebetulan dapat TPS pindahan (aku pakai form C5) yang nggak dekat dari pesantren. So, aku pinjem motor Ummi Ebah dan menyelesaikan urusan amanat negara ini.

Setelah itu siap-siap ke Jakarta. Sendirian. Karena Gogo udah di Jakarta duluan buat nyoblos dan bakal ketemuan di bandara langsung. Syukurnya Pak Hendra (security di pesantren) mau nganterin sekalian ambil surat mobil di Jakarta. Akhirnya aku berangkat sama Pak Hendra setelah sebelumnya menyerahkan beberapa pekerjaan dulu.

Sebelum Maghrib aku sudah sampai di Rumah SoA. Barang-barang diturunkan dan aku lanjut ke AQL sebentar, sekaligus menemani Pak Hendra mengambil surat tadi. Lepas Isya aku ikut Kak Reno, orang SoA yang mau ikut mengantar kita ke bandara.

"Kita tidak berjalan melainkan diperjalankan" - @uttihati, 2019 Manusia memang punya dua kaki untuk melangkah, tapi tan...


"Kita tidak berjalan melainkan diperjalankan"
- @uttihati, 2019

Manusia memang punya dua kaki untuk melangkah, tapi tanpa seizin Pencipta Sepasang Kaki, tidak ada kuasa kita untuk berdiri apalagi berlari.
Maka sebuah amanah di penghujung tahun ajaran ini rasanya serupa hadiah, entah dari pinta yang mana. Hadiah itu berupa A CALL FROM TURKEY 

Turkey.
Ealah, salah - salah!
Lagian searching "Turkey" di Google Image kenapa gambarnya ini semua dah??
Oke, oke kita ulang
A CALL FROM TURKEY.
Baru bener.
Jadi gimana datangnya panggilan dari Turki itu?
Gini ceritanya...

***

Hari itu Selasa (2 April), seharusnya jadwal liqo' internal bersama Ustadz Bachtiar. Tapi aku enggak ikut karena baru selesai ngantar Mamak ke terminal Cileungsi untuk menuju Bandara Soeta . . . naik MOTOR, hahaha! Jadi enggak tau gimana ceritanya mungkin kecapekan, abis Maghrib aku ketiduran pulas banget. Tiba-tiba hape berisik, ada chat rame dari Mbak Nurul (Gogo). Di tengah upaya mengumpulkan kesadaran, aku baca chatnya.

Shalahuddin Umar, sebuah nama yang kusimpankan untukmu wahai Sang Pembebas yang Gagah. Dari darahku ingin kusiapkan engkau menjadi generasi...

Shalahuddin Umar, sebuah nama yang kusimpankan untukmu wahai Sang Pembebas yang Gagah.
Dari darahku ingin kusiapkan engkau menjadi generasi pembebas Baitul Maqdis.
Dari darahku ingin kusiapkan engkau yang gagah berani dalam kebenaran

Yaa Shalahuddin,
Aku tahu bahwa diriku belum lagi baik, jauh dari sempurna.
Tetapi wahai Shalahuddin, semoga keinginan dan kerinduan bertemu engkau, menjadi pengingat yang baik bagi diriku

Bukan aku tak tahu diri
Tapi jika meminta surga saja kita berani, mengapa memintakan engkau menjadi Sang Pembebas saja aku ragu?

Wahai Shalahuddin,
Kusimpankan sebait nama ini untukmu

Belakangan aku sering merenung tentang apa yang sebenarnya orang-orang rasakan tentang hidup orang lain. Ya, orang lain Seperti saat kita...

Belakangan aku sering merenung tentang apa yang sebenarnya orang-orang rasakan tentang hidup orang lain.
Ya, orang lain
Seperti saat kita melihat orang yang kelihatannya lebih sukses, lebih bahagia, lebih dicurahi banyak cinta, seperti sempurna
Pertanyaan itu muncul seiring dengan kekhawatiranku tentang 'Apakah hidupku menjadi potensi iri dalam hati orang lain'?
Jadi aku berhenti (setidaknya mengurangi) berbagi cerita baik seperti yang kulakukan dulu
Bukan apa-apa, zaman sekarang potensi penyakit hati semakin banyak seiring terbukanya informasi

Tapi dari semua itu, kalimat ajaib yang kugaungkan saat melihat nikmat hidup orang lain adalah,
"Kamu tidak tahu masalah apa yang tengah dia hadapi"
"Jika kau tertinggal dalam urusan dunia, maka unggulilah dia dalam urusan akhirat"
"Yang di sisi Allah itu lebih baik"

Ya, yang di sisi Allah.
Dari sisi-Nya.

Ketika teman-teman menikah lalu berkeluarga, kubisikkan kepada hati "Mintalah yang dari sisi Allah" sambil mendoakan diriku agar layak baginya
Ketika teman-teman unggul dalam prestasi duniawinya, kukatakan pada hati "Itu dunia, Put. Tidak akan selamanya. Kejarlah keabadian, yang abadi bersama Sang Maha Abadi"

Begitulah.
Dalam tanya, kujawab sendiri.
Jujur, belakangan waktu aku tak pandai curhat lagi
Menikmati rahasia ternyata jauh seru adanya

Ketika menuju tengah malam HP tiba-tiba bootloop sementara data kerjaan maish disana Ketika berusaha cari solusi lewat Google search tiba-t...

Ketika menuju tengah malam HP tiba-tiba bootloop sementara data kerjaan maish disana
Ketika berusaha cari solusi lewat Google search tiba-tiba WiFinya nggak mau nyambung
Di hari yang sama Ayah ulang tahun dan nggak bisa ngucapin selamat karena HP nggak nyala
Akhirnya minjem HP temen dan harus nyari contact Ayah dulu di email karena nomor yang baru nggak hapal kecuali ujungnya
Udah selesai urusan ngucapin ultah, pengen curhat gegara masih bete
Pas buka Tumblr, ternyata Tumblr diblokir. Dan segala-gala jenis curhatan (termasuk cerita manis) masih ada disana
Di saat itu aku ngerasa...

Tuhan~~ Rasanya seperti disuruh uzlah!

'Diputus' dengan sengaja dari 'dunia' ngebuat aku sadar mungkin selama ini terlalu bergantung sama kecanggihan teknologi yang apa-apa bisa dibackup dan dijadikan rujukan
'Diputus' dari sarana curhat menyadarkan aku juga bahwa sebaik-baik curhat cuma ke Allah walaupun seringkali ngerasa "lebih lucu" kalau dibuat cerita di platform atau ditulis di diary

Ah manusia...

Mungkin,
Mungkin karena sebuah ayat yang Ustadz sampaikan tadi malam, tentang membersihkan keinginan setani dari kemauan-kemauan kita agar Allah tetapkan ayat-ayatNya, entah kenapa saat itu dadaku tertohok, mataku memanas. Aku takut kalau keinginanku ternyata disusupi keinginan-keinginan setan. Sedang Nabi dan Rasul saja tidak terlepas dari godaan itu, apalagi aku yang manusia biasa? Yang dosanya masih lebih banyak ketimbang istighfarnya?

Ya Rabb...
Ampunkanlah...

21.31 disini. Di ruangan yang dingin karena ACnya hanya kunikmati sendirian. Dua rekan tak masuk, mungkin lelah selepas event. Di samping k...

21.31 disini. Di ruangan yang dingin karena ACnya hanya kunikmati sendirian. Dua rekan tak masuk, mungkin lelah selepas event.
Di samping kiri bertumpuk laporan keuangan yang baru masuk dan laporan bulan-bulan sebelumnya. Belum lagi surat permintaan ini-itu. Kukatakan ini sebagai Kerja dua puluh tangan yang dikerjakan dua tangan. Seluruh waktu dan perhatian nyaris tersedot untuk dibagi-bagi. Hampir tak ada waktu untuk diri sendiri. Yeah, this is my world!

Sebenarnya aku hampir-hampir menyerah. Diberikan amanah di ranah yang 'nggak gue banget' atau lebih tepatnya 'gue nggak suka' bisa dibilang banyak berantemnya sama diri sendiri. Kadang tersirat juga sesuatu seperti "I want another world, i want my world."

Tapi mamak dan ayah bilang,
"Semua masalah dalam kerjaan itu adalah ilmu. Kalau kita berhasil lewati maka kita kuat. Jangan mundur, apalagi sampai menyerah. Kalau penggantimu tidak lebih baik darimu, kau berdosa. Makanya, selama kau disuruh berada disitu, berarti kau harus lakukan sebaik-baiknya."
Di puncak bete seperti ini sejujurnya kadang-kadang aku enggan banyak berinteraksi dengan orang. Apalagi berinteraksi dengan kerjaan. Ngeluh? Kata pimpinanku nggak boleh. Tapi namanya manusia berbatas, pasti adalah masa-masa dimana kita merasa nggak sanggup.

Malam ini ada Kajian Majelis Ayah di kantor. Pematerinya Ustadz yang juga kerja di ranah 'dunia' lah kira-kira. Dia bilang,
"Kalau anda merasa capek dengan kerjaan anda, ketahuilah lebih capek lagi nyari kerja." 
Eh, ya Allah... bener juga... Suka nggak kepikiran kalau lagi 'kurang waras' gini.
Terus pas buka Tumblr juga entah kenapa posting pertama yang muncul itu dari Nouman Ali Khan yang isinya gini :

Rasanya ditampar lagi. Kenapa coba ketepatan gini?
Tapi Allah selalu punya cara menegur kekhilafan kita. Itu karena Allah sayang.

Sumber : posfilm.com Chrisye bukan seorang musisi?! Ya, setidaknya itu yang tergambar dalam film CHRISYE yang rilis pada 7 Desember 20...

Sumber : posfilm.com

Chrisye bukan seorang musisi?! Ya, setidaknya itu yang tergambar dalam film CHRISYE yang rilis pada 7 Desember 2017 ini. Film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani ini mengangkat sisi lain kehidupan maestro Indonesia, Chrismansyah Rahadi atau yang lebih dikenal dengan Chrisye.

Film Chrisye dibuka dengan kisah pertentangan yang dihadapi Chrisye atas larangan Papinya terhadap keseriusannya bermusik. Bagi Papi, musik di Indonesia belum dihargai sehingga takkan mungkin memenuhi kebutuhan hidup dari musik. Padahal saat itu Gipsy -band tempat Chrisye bernaung- baru saja menerima tawaran menjadi homeband di Amerika. Papinya yang semula keras atas sikap kukuh Chrisye akhirnya luluh karena sebuah mimpi. Mimpi itu mengingatkan Papi bahwa anaknya hanya titipan, jadi dia tidak berhak melarangnya.

Secara garis besar film ini tidak terlalu banyak mengambil cerita kesuksesan karir Chrisye. Karena jika mau ditilik, film berdurasi 1 jam 50 menit ini justru lebih banyak mengisahkan Chrisye dan pandangan hidupnya. Setidaknya itu yang saya dapatkan. Tak banyak konflik dalam film ini. Ibarat jalanan, tak ada tanjakan atau turunan yang begitu kontras. Chrisye adalah orang yang sangat perfeksionis, penuh perhitungan dan tidak suka berlarut-larut dalam gegap gempita karirnya. Selain itu ia adalah orang yang memikirkan sesuatu sangat dalam. Terkadang pikirannya itu pula yang membuat dia khawatir berlebihan. Padahal hidupnya baik-baik saja.

Sikap Chrisye yang kaku juga tergambar dengan sentuhan komedi di film ini. Seperti saat ia beberapa kali dicueki Yanti, gadis pujaannya yang akhirnya menjadi istrinya. Orang yang sangat irit senyumnya, begitu kira-kira. Kekakuan nan lucu itu kembali muncul saat Chrisye PDKT ke Yanti. "Saya yakin terhadapmu, Chris," kalimat itu diulang-ulang Yanti dan membuat Chrisye tercengang. "Kamu yakin sama saya, Yan?" dan tawa penonton meledak karena paham maksud kalimat ini ke arah mana. Begitupun saat 'menembak', Yanti seru menceritakan keluarganya yang juga suka musik. Tiba-tiba Chrisya menembak, "Berarti orangtua kamu enggak apa-apa anaknya pacaran sama musisi?" Sangat to-the-point!

Tapi yang paling menyentuh hati saya adalah sisi spiritual Chrisye dalam film ini. Saya sepakat jika orang yang punya jiwa seni hatinya akan halus dan sensitif sekali. Sensitivitas ini menyentuh ranah religiusnya pula. Chrisye berpindah keyakinan menjadi seorang muslim bukan karena Yanti, melainkan ia banyak memperhatikan sekelilingnya. Sederhananya, belajar dari alam. Mengesankan sekali saat Chrisye melamar Yanti di hadapan makam ibunda Yanti. "Yan, kalau kita menikah nanti saya ingin anak-anak mengikuti keyakinan saya. Tapi saya mau kamu yang mengajari." Yanti tentu bingung. Namun Chrisye segera menjawab, "Saya ingin masuk Islam" yang langsung disambut tangis haru Yanti.

Klimaks film ini menurut saya justru pada kisah di balik lagu "Ketika Tangan dan Kaki Bicara" dimana syairnya diciptakan oleh Taufik Ismail. Pada bagian ini, mayoritas penonton dalam bioskop serasa ditohok sekejap. Lagu ini pula yang menjadi jawaban atas kegelisahan-kegelisahan hidup yang dirasakan Chrisye namun tidak bisa dijawab oleh Surya, sepupu Yanti yang banyak membimbing Chrisye paska mualaf. 

Akting Vino G. Bastian bisa dibilang memuaskan karena berhasil membawakan Chrisye tanpa harus menjadi Chrisye. Mimik wajah sampai gesture asli Vino tidak hilang dan tidak terlihat terpaksa menyerupai Chrisye, namun entah mengapa seperti ada aura Chrisye yang hadir. Memang tidak begitu kuat di awal film namun begitu kuat di bagian akhirnya.

Pada akhirnya film Chrisye menyadarkan kita tentang "Totalitas dan orisinalitas dalam karya".
Bravo!


Ready to Move Hai, this blog must be 'sawangan' setelah ditinggal beberapa waktu Yapps, tepatnya 1,5 tahun Kalo anak bayi ud...

Ready to Move

Hai, this blog must be 'sawangan' setelah ditinggal beberapa waktu

Yapps, tepatnya 1,5 tahun
Kalo anak bayi udah bisa naik Harley ini! Hahaha...

Baiklah, untuk 'menebus dosa' penulis yang udah jarang nulis (kecuali diary) dan blogger yang udah jarang ngeblog ini mungkin ke depannya blog ini bakal difungsikan kembali.

By the way ini sebenarnya didukung karena tugas dari FLP Bogor untuk Pramuda angkatan 10

Yass, Finally...
Setelah hampir 2 tahun tanpa status ke-FLP-an yang jelas (iyalah, keanggotaan FLP Sumut, badan di Jakarta tapi kerja di Jonggol) akhirnya beberapa minggu lalu surat mutasi yang dari kapan taon diberikan oleh FLP Sumut itu sudah diterima FLP Bogor.

And im officially moved
Rasanya kayak apa ya? Pindah warga negara gituh? Hahaha, lebay~
Sedikit banyaknya mirip-mirip lahapa yang pernah dijalani di Medan sama disini
Pertemuan, kelas mentoring, dan uniknya lagi sekretariatnya alias Rumcay-nya itu mirip sama Rumcay di Bogor. Tempatnya mojok di dalam gang, pas di samping pemakaman. Kayak rumcay di Sei Deli dulu hehehe...

Mudah-mudahan jadi wasilah kebaikan

Dan, mungkin ini bukan satu-satunya moving yang harus aku jalani. Selama beberapa waktu ini udah sekian banyak moving di segala urusan, hobi (sampe perasaan) yang harus dijalani.
Katanya hijrah itu baik, dan apa yang kita tinggalkan sebelum hijrah insyaAllah akan diganti dengan yang lebih (minimal sama) dari apa yang kita tinggalkan dulu.

Semoga.