Pentingnya Membangun Generasi Qurani di Era Digital
Ini adalah sebuah pengalaman pribadi saya di penghujung tahun 2015, waktu itu...
"Setelah
menunaikan sholat Zuhur, saya kembali ke tempat tadi, sebuah tempat yang cukup
nyaman untuk menulis. Meja saya sudah ditempati orang lain, jadi saya
menunggu saja di kursi baca.
Saya memperhatikan segerombolan anak kecil yang berjumlah sekitar 4 orang, bolak-balik saling melirik layar komputer temannya. Melihat gerak-geriknya, saya jadi penasaran. Lantas saya berjalan ke belakang kursi salah satu dari mereka.
Alangkah terkejutnya saya saat mendapati laman yang sedang dibuka anak berbaju putih berpostur kurus ini! Ia membuka sebuah laman profil facebook milik wanita dewasa lantas asyik scrolling foto-foto perempuan tersebut. Lalu rekannya datang, mereka memilih similar friend yang ada di profil tersebut.
"Coba buka ini, cantik..." Begitu kata temannya menunjuk salah satu profil perempuan.
Astaghfirullah! Panas dada saya dibuatnya!
Temannya yang lain pun sama, saya lantas mengintai dari balik rak buku dan mendapati anak tersebut sedang membuka Youtube. Tapi gelagatnya aneh, setiap kali ada yang datang dan membuka pintu, refleks dia menoleh persis seperti orang ketakutan, ya, takut ketahuan. Cukup bagi saya untuk memahami bahasa tubuhnya.
Satu lagi yang sangat menyedihkan, Anda kira kejadian ini terjadi dimana? Di Warnet kah?
Salah. Saya sedang di Perpustakaan Umum! Tempat yang seharusnya digunakan untuk belajar dan menambah ilmu. Bayangkan! Jika di tempat umum saja mereka berani mengakses seperti ini, apalagi di tempat tertutup? sepi? tidak ada orang? Saya ngeri membayangkan apa yang berani mereka akses lebih dari ini. Ayah bunda, para guru, apa yang anak anda lakukan di facebook?
Saya memperhatikan segerombolan anak kecil yang berjumlah sekitar 4 orang, bolak-balik saling melirik layar komputer temannya. Melihat gerak-geriknya, saya jadi penasaran. Lantas saya berjalan ke belakang kursi salah satu dari mereka.
Alangkah terkejutnya saya saat mendapati laman yang sedang dibuka anak berbaju putih berpostur kurus ini! Ia membuka sebuah laman profil facebook milik wanita dewasa lantas asyik scrolling foto-foto perempuan tersebut. Lalu rekannya datang, mereka memilih similar friend yang ada di profil tersebut.
"Coba buka ini, cantik..." Begitu kata temannya menunjuk salah satu profil perempuan.
Astaghfirullah! Panas dada saya dibuatnya!
Temannya yang lain pun sama, saya lantas mengintai dari balik rak buku dan mendapati anak tersebut sedang membuka Youtube. Tapi gelagatnya aneh, setiap kali ada yang datang dan membuka pintu, refleks dia menoleh persis seperti orang ketakutan, ya, takut ketahuan. Cukup bagi saya untuk memahami bahasa tubuhnya.
Satu lagi yang sangat menyedihkan, Anda kira kejadian ini terjadi dimana? Di Warnet kah?
Salah. Saya sedang di Perpustakaan Umum! Tempat yang seharusnya digunakan untuk belajar dan menambah ilmu. Bayangkan! Jika di tempat umum saja mereka berani mengakses seperti ini, apalagi di tempat tertutup? sepi? tidak ada orang? Saya ngeri membayangkan apa yang berani mereka akses lebih dari ini. Ayah bunda, para guru, apa yang anak anda lakukan di facebook?
_______
Begitulah.
Itu hanya satu dari sekian banyak fenomena yang terjadi akibat kehadiran media sosial. Tak jarang, pemilik akun medsos ini bukan orang dewasa, melainkan anak-anak yang menipu usianya sehingga bisa membuat akun facebook. Selain itu, tak jarang pula kita menemukan balita yang mahir mengotak-atik gadget,
bahkan beberapa sudah mampu mengoperasikannya. Aneh juga rasanya melihat
anak kecil yang belum bisa membaca tapi tahu menggunakannya.
Hal ini
tidak selalu berbuah baik, kadangkala malah menimbulkan masalah baru seperti kecanduan games hingga yang paling parah candu pornografi.
Beberapa
penyakit kejiwaan baru pun bermunculan, mulai dari yang tidak mampu
lepas dari gadget, gila selfie hingga ratusan foto per hari sampai
tindak asusila yang bermula dari media sosial.
Generasi yang kini kita lihat begitu cerdas terutama lekas akrab saat bersentuhan dengan teknologi. Seperti yang telah diketahui, teknologi bagai dua sisi mata pisau. Manfaatnya banyak, mudharatnya juga sama.
![]() |
Generasi manakah yang ingin kita bentuk? |
Bayangkan saja, di zaman ini keterbukaan informasi berbanding sama dengan kebocoran informasi.
Mengapa saya sebut demikian?
Akses tanpa batas di dunia digital memang akan memudahkan kita untuk cepat memperoleh informasi, tapi juga menjadi tantangan
Ya.
TANTANGAN!
Tantangan bagi segenap orangtua untuk menjaga anaknya. Bagaimanapun, anak adalah amanah. Pertanggungjawabannya tentu kepada Allah. Mengenalkan anak kepada Tuhannya, mengajarkan anak untuk mencintai agamanya, bukankah itu merupakan tanggung jawab orangtua?
Pada dasarnya tidak sulit membangun keluarga Qur'ani di tengah gerusan era globalisasi seperti ini. Jika saja setiap orangtua memiliki kemampuan menjalankan peran sebagai orangtua, jika saja setiap orangtua memahami betapa keluarga Qurani adalah solusi di zaman ini, jika saja setiap orangtua terus belajar memperbaiki diri...
Bukan. Bukan "JIKA SAJA".
Itu artinya kita hanya berandai-andai. Mari bergerak bersama.
Ayah, Bunda, dan para calon orangtua, renungkanlah sejenak
Pertama,
"APA YANG BISA MENJAMIN KEAMANAN ANAK ANDA KALAU BUKAN PAGAR IMAN DAN AGAMA?"
Apakah mata anda mampu melihat semua kegiatannya?
Apakah telinga anda sampai mendengar pembicaraannya?
Apakah tangan anda selalu bisa menggenggamnya?
Jawabannya hanya satu, Titipkan pada Allah.
Kembali lagi, ini perkara iman kan?
Ini perkara mengajarkan agama kan?
Kedua,
"APA YANG BISA MENYELAMATKAN ANDA DARI SIKSA KUBUR KALAU BUKAN DOA SEORANG ANAK YANG SHALIH?"
Ketika ajal menjemput, nafas terhenti, amalan diputus, adakah anda mampu menolong diri anda sendiri?Satu dari tiga penolong itu adalah doa anak yang shalih.
Jika anda tidak berhasil mengenalkan anak kepada Tuhannya, jika anda tidak bisa membuat anak anda mencintai agamanya dan memiliki kebanggan terhadap agamanya, bagaimana ia bisa tahu cara mendoakan anda?
Mengapa Kita Perlu Membangun Keluarga Qurani?
"
ALLAH adalah kekuatan
RASULULLAH adalah teladan
QURAN dan HADITS adalah panduan
"
Tanpa unsur ketiganya, kita hanya akan menghasilkan generasi yang lemah, yang hidupnya tak berarah. Sedang Allah telah mengingatkan kita pada surah An-Nisa ayat 9 :
Generasi yang mencintai ALLAH,
akan menjadikan Allah
sebagai pegangan utama. Menumbuhkan khauf (rasa takut) dan rojaa'
(pengharapan) secara bersamaan. Ia takut, karena meyakini semua
tindak-tanduknya disaksikan Allah. Ia akan takut berbuat jahat, ia takut
berbuat maksiat. Tetapi di saat yang sama, dalam hatinya ia penuh harap
kepada Allah, menggantungkan serta menyerahkan segala urusan kepada
Allah.
Generasi yang mencintai RASULULLAH,
tidak
akan linglung mencari pedoman, tidak akan kesulitan menemukan role
model. Ia tidak perlu mengikuti artis idolanya, tidak perlu mencontoh
prilaku yang tidak benar. Sebab Generasi Qurani meyakini bahwa Rasul
teladan sempurna. Semua aspek ada padanya. Kesuksesannya telah nyata,
walau begitu jauh jarak masanya, namun ajarannya tertanam sempurna.
Generasi yang mencintai AL-QUR'AN dan HADITS,
tidak
akan memusingkan permasalahan hidup. Dipikirkan, tapi tak untuk
dipusingkan. Sebab semua jawaban telah tercantum dalam Al-Qur'an yang
diagungkan. Walau akan disebut fanatik, radikal, ekstrimis, tetapi
generasi Qur'ani akan tegar dan istiqomah karena Quran menjadi panduan.
Segala penciptaan dari awal kehidupan hingga saatnya masa kehancuran,
semua sudah dituliskan. Generasi ini adalah generasi cerdas, mampu
membaca peta zaman, hidupnya sudah penuh jawaban, bukan lagi pertanyaan.
وَلْيَخْشَ
الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ
فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah
orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang
lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu,
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan
yang benar.”.
Inilah teguran istimewa itu!
Apakah kita ingin meninggalkan generasi yang lemah?
Yang kehilangan pegangan dan tak tahu arah?
Yang hidup hanya sekedar hidup tapi tak urung sadar bahwa ia dicipta untuk beribadah?
Di tengah derasnya gerusan zaman, kuatnya badai godaan, apakah generasi kita akan kuat jika tak menempatkan Allah, Rasulullah serta Al-Qur'an dan Hadits dalam hatinya?
_______
Beginilah generasi Qurani, imannya mengalahkan 'kegilaan' zaman yang mampu membunuh nurani.
Inilah generasi Qurani, melawan mainstream dengan sopan.
Generasi ini bukan generasi lemah, generasi ini dirindu dunia, didamba syurga.
InsyaAllah...
Mudah-mudahan Ayah, Bunda dan segenap calon orangtua mulai mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga Qurani. Aamiin...
![]() |
Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba #NgeblogIslami dalam menyambut Islamic Book Fair 2016, 26 Feb-6 Mar 2016 |
Komentar
Posting Komentar