Senin, 17 November 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Setelah 3 Tahun Berlayar Bersama Kapal Layar...

Kapal Layar.
Nama yang kupilihkan untukmu. Dari dulu, dari dulu sekali sejak masih duduk di bangku SMA aku berkeinginan punya blog pribadi yang diberi nama Kapal Layar.

Kudapati foto-foto dimana aku menulis kata Kapal Layar untuk situs pribadiku nantinya.

Mungkin dari berbagai alat transportasi, kapal adalah yang paling menarik untukku. Sedari kecil, aku suka sekali melihat desain kapal-kapal dengan layar-layar besar yang terpancang di tiang-tiang yang tinggi. Semakin rumit desainnya, semakin suka aku melihatnya.
Kekagumanku pada kapal bukan tanpa alasan.
Sebuah kapal dirancang sedemikian rupa untuk bisa mengambang di permukaan, padahal material pembangunnya tidaklah ringan. Untuk mengerjakannya dibutuhkan usaha besar dari banyak orang. Ya, banyak orang bahkan orang yang mungkin tidak ahli pada bidangnya.

Saat berlayar, tampak pula kegagahannya mengarungi kedalaman laut yang misterius dan jarak yang tak terukur pula. Penggeraknya hanyalah angin, ombak dan kekuatan kemudi sang nakhoda.
Sebuah filosofi hidup yang luar biasa...

Dulu, tiada akses untuk membuat blog pribadi tapi setelah tamat dan sudah punya akses tak kunjung kubuat juga. Alasannya, belum bisa.
Sampai pada suatu hari setelah eliminasi dari Dai Muda Pilihan, ustadzku menyarankan untuk punya sarana berbagi tulisan. Tak ayal, langsung kubeli sebuah buku panduan membuat blog dan mengeksekusinya.

November 2011,
Kapal Layar hadir dengan tampilan sederhana dan belum ada tulisannya.
Berulang kali gonta-ganti template dan mengubah desainnya.
Postingan masih belum stabil dengan konsep yang belum jelas.
Well, lengkap sudah. Blog yang masih bingung mau diapakan.

Sekarang genap 3 tahun sudah Kapal ini berlayar.
Template dan desain yang sudah nyaman dipakai sehingga tidak diganti-ganti lagi.
Seperti tagline-nya, "Semakin jauh berlayar, semakin dalam mencari makna kehidupan" rupa-rupanya Tuhan kabulkan dalam kehidupan sesungguhnya.
Pertambahan usia, bertemu dengan orang-orang, mendapat pengalaman baru yang semuanya merupakan proses mencari makna kehidupan.
HIKMAH.
Begitu namanya. Bahwa kehidupan ini menawarkan berbagai hikmah yang harus terus kita ambil, jika tidak takkan berharga hidup ini. Karena Allah pun begitu menyayangi hamba-hambaNya yang pintar mengambil hikmah.

23630.
Statistik kunjungan nyang tertera di Kapal Layar saat postingan ini ditulis.
Tak muluk-muluk dengan jumlah visitor sebenarnya tetapi manfaat dari tulisannya adalah yang utama.
Maka bahagia sangat terasa manakala ada teman-teman yang bercerita bahwa dia mendapat pencerahan setelah membaca blog ini. Tak jarang mereka membantu share karena merasa mendapatkan manfaat, bukan paksaan. Kudapati juga teman-teman yang men-capture tulisan dalam blog ini sekiranya ia bermanfaat. Kuharap ianya menjadi tabungan di akhirat kelak, kata-kata yang akan menjadi saksi bahwa ia tidak digunakan untuk memaki, mencaci, memfitnah atau mengumpat tetapi digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Selama 3 tahun bersama, terima kasih karena membantuku mengumpulkan keping-keping kebaikan yang akan kita bawa bersama ke hadapan Rabb-ku kelak. Jadilah investasi pahala yang tiada putusnya, Kapalku...

Allah, berikan aku dan mereka manfaat...
Jumat, 14 November 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Akhwat atau Akh, What?!!

Setelah menulis soal Penampilan Ikhwan, Kelakuan? beberapa saat yang lalu, aku merasa penting juga menulis soal para Akhwat. Lagi-lagi karena ada suatu kasus yang 'ditampakkan' Allah Ta'ala untuk diambil hikmahnya. Semoga memberi nasihat bagi para muslimah dan untuk diri penulis juga.

Sore itu aku menelepon seseorang, aku sudah berjanji untuk menyambung pembahasan yang terpotong saat Ashar tiba tadi. Dengan cepat teleponku dijawabnya, suara seseorang yang kukenal sedari kecil.

"Jadi gimana cara abang menghentikannya? Abang enggak mau menyakiti hati dia..." ucap suara di seberang sana.
"Yang laki-laki itu abang, yang harus tegas itu abang. Takut menyakiti hati dia atau mau bergelimang dosa?" cecarku padanya.

Pembahasan ini menjadi hangat setelah kejadian di liburan Idul Fitri. Antara si abang dan seorang akhwat. Tak perlu dijelaskan kejadiannya tapi sangat menggelitikku untuk menginterogasi si abang langsung.

Suara di seberang melanjutkan ceritanya. Akhwat itu seorang yang baru hijrah. Ia sering bertanya tentang agama kepada si abang. Awalnya masih dilakukan secara wajar. Lama kelamaan sering keterusan bahkan sampai tengah malam. Pertanyaan yang terkesan 'penting' namun agaknya cukup tabu jika dilakukan dalam frekuensi sesering itu.
Akhwat itu, lanjutnya, juga sering memberikan hadiah-hadiah kepadanya. Mulai dari bekal makan siang sampai kado berupa barang. Sangat menggelitik nalarku untuk mencari tahu lebih lanjut.


The Girls : Kita yang Saling Ditakdirkan

"1640 percakapan lainnya"
Begitu yang tertulis di group chat mukabuku kita. Belum setahun kita berinteraksi dalam grup itu tetapi sudah ribuan hal yang kita bicarakan.
Baru di dunia maya, belum dihitung pula di dunia nyata.

Kita berangkat dari stasiun-stasiun yang berbeda.
Aku bertemu dengan Onee saat ia di masa transisi, berjuang menyembuhkan diri dan hatinya. Saat itu aku belum dekat tapi di kepalaku berkumpul banyak pertanyaan soal dirinya. Kutanyakan sesuatu, tentang lukanya itu. Pertama kalinya kami bercerita, pertama kalinya ia langsung meneteskan airmata di hadapanku, aku yang saat itu belum dekat dengannya.

Aku bertemu seorang Pututupi dalam perekrutan anggota PIJAR angkatan pertama. Seorang yang dulu sangat berbeda. Masih pakai celana jeans dengan kemeja pendek dan jilbab yang simpel. Beberapa kali bertemu namun kita irit berinteraksi. Mungkin karena ia tak banyak bicara sedang aku tak tahu bisa membicarakan apa dengannya. Sampai satu hari kita membicarakan soal mentoring. Tak berapa lama kemudian ia berubah penampilan. Perlahan tapi pasti sampai menjadi Pututupi yang sekarang.

Rabu, 12 November 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Ayah, Selamat Hari Ayah...

12 November 2014,
Hari Ayah Nasional

Ayah,
Dari kecil aku memanggilnya begitu, tidak pernah berubah. Ayah adalah lelaki pertama yang aku kenal di dunia, tentu. Seorang lelaki yang pertama sekali mendengungkan kalimat-kalimat Allah yang indah di telingaku. Yang itu aku tak ingat, tapi aku tahu...

Siapapun yang pertama kali berjumpa dengan Ayah akan berpendapat sama, "Galak" atau "Seram"
Lalu semua pendapat itu luruh di sekian menit berikutnya, saat Ayah mulai mengeluarkan lawakan-lawakannya. Sontak opini itu berubah, "Lucu ya..." atau "Kocak banget..."
Ayah selalu punya bahan lawakan untuk diceritakan kepada siapapun. Maka kemanapun Ayah pergi, orang-orang sering mencarinya.

Layaknya lelaki, Ayah begitu gengsi untuk menangis. Padahal hatinya begitu gampang tersentuh. Waktu itu, saat aku dinyatakan lolos sebagai finalis Dai Muda Pilihan, Ayah mengucapkan begini di atas motor, "Tadi Ayah nonton iklan Uti di tivi, nangis Ayah..."
Aku tertawa, hal itu ternyata mampu menyentuh hatinya.

Tugas Besar Sebuah Pernikahan

Bicara tentang hubungan dua insan berbeda jenis tentulah kita sepakat bahwa tidak ada jalan lain yang menghalalkannya kecuali sebuah pernikahan.
Sebagian orang melakukannya atas dasar ibadah.
Sebagian ada yang mengaku nekat.
Dan sebagian lainnya ada yang merasa terpaksa.
Semoga kita menjadi golongan yang pertama saja.

Tapi sesungguhnya ada sebuah tugas besar yang menanti di depan sana. Tugas besar ini bisa dilakukan lewat pernikahan.

Apa itu?

MEMBANGUN PERADABAN.

Mari buka mata sejenak.
Hari ini entah berapa banyak keluarga yang terpecah karena alasan-alasan seperti 'tidak cocok lagi'
Hari ini entah berapa banyak anak-anak yang menjadi korban dari alasan itu. Anak-anak yang tidak mengenal konsep keluarga sehingga tidak mampu menghargai dirinya sendiri.
Hari ini anak-anak yang tidak menghargai dirinya itu cenderung berbuat tidak baik. Bukan karena jahat, tapi karena mencari perhatian yang hilang.
Hari ini begitu banyak keluarga yang tidak duduk pada fungsi keluarga sesungguhnya.
Fungsi afeksi, fungsi kasih sayang.

Jumat, 07 November 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Rasanya Dikerjain Tuhan

Ngajak berantem banget gak judulnya?
Hehehe, maaf...
Kenyataannya memang begitu. sering sekali kita merasa tengah dikerjain Tuhan. Dikerjain dalam hal apa? Hohoho, banyak...

Belakangan ini aku merasa sangat-sangat sedang dikerjain Tuhan.
Siapa yang terlebih dahulu kutertawakan kalau bukan diri sendiri? Menyadari betapa 'sok kuatnya'. 'sok hebatnya', 'sok kerennya' diri ini dengan kemampuan yang dimiliki. Padahal status diri ini HAMBA. Kalaupun memiliki kemampuan, itu sifatnya pinjaman dari Allah. Begitu kan?

Beberapa bulan yang lalu, ada seseorang yang sok-sok kuat bertahan di balik lukanya. Seolah-olah sudah sembuh, seolah-olah sudah menyelesaikan masalah. Sok-sokan logis berpikir, bertahan pada prinsip, nilai dan pakem yang sudah dipegang lama. Udahlah sok kuat, giliran punya masalah masih nangis, ngadu juganya ke Allah.

Selain sok kuat, sok hebat juga dia! Seolah-olah harapan-harapannya, rencana-rencananya bisa berjalan sesuai perkiraaannya. Dipikirnya udah rapi kali yang dirancangnya itu, dipikirnya bakal kekgitu lah yang akan terjadi.

Selasa, 04 November 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Surat dari Dermaga


Apa yang bisa membawa selembar surat ini berbaring di atas dermaga kalau bukan takdir. Angin bisa saja mempermainkannya kemanapun angin mau termasuk jika harus berakhir di dasar lautan. Tapi sepucuk surat ini dipilih takdir untuk berbaring di atas dermaga. Dengan tinta yang tidak pudar, surat ini menyampaikan sesuatu.

"Apa kabarmu sekarang? Kuharap kau baik-baik selalu. Hanya doa yang bisa kutitipkan karena aku tak mampu melakukan lebih dari itu. Mungkin tak cocok juga aku bertanya kabar karena itu adalah sesuatu yang selalu aku tahu. Tapi aku hanya ingin memastikan.

Goo, setiap orang hidup di masa lalu, masa kini dan masa depan. Kesemuanya adalah satu kesatuan waktu yang tak dapat dipisahkan, hanya saja kita yang mengkotak-kotakkan. Aku, kau dan siapa saja pernah hidup di masa lalu, menjalani masa kini dan merencakan masa depan.