Kamis, 14 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Hari-Hari Bersama Pramuka


Salam Pramuka!
14 Agustus, Hari Pramuka
Ahh rasanya sudah lama tak menyentuhmu... Jadi izinkan aku berbagi kisah-kisah selama kita menjalani hari bersama itu...

***

Atok kami adalah seorang Pembina Pramuka yang sangat aktif. Berbagai event nasional sampai internasional pernah Atok ikuti. Bahkan Sibolangit yang jadi Bumper (Bumi Perkemahan) sekarang ini juga bagian dari usaha atok saat membukanya. Jejak Atok diikuti oleh anak-anaknya, termasuk mamak. Jadilah aku memiliki kesan yang sangat baik terhadap Pramuka. Apalagi waktu Atok meninggal pada 2009, rekan-rekan dan adika didikannya datang menggunakan seragam Pramuka dan menyebut Atok kami sebagai Atok Pramuka.

Pramuka, aku sudah mengenalnya sejak duduk di bangku SD. Ekstrakulikuler yang paling kucari dan paling ingin kuikuti tapi sayang waktu itu Pramuka hanya boleh diikuti oleh kelas 5 dan 6 saja. Jadilah aku menunggunya :D
Pramuka di SD itu kan untuk Siaga, jadi wajar saja kalau Pramuka SD banyak main-mainnya ketimbang keterampilan yang didapatkan di Penggalang atau Penegak. Tapi disinilah aku menemukan cinta pada Pramuka. Sayangnya Pembina kami waktu itu sempat berganti beberapa kali dan sedihnya lagi kami tidak bisa melaksanakan kegiatan outdoor hanya karena izin dari pihak sekolah. How pity...

Masuk pesantren Pramuka menjadi ekstrakulikuler wajib disana, semua orang harus ikut, suka atau tidak suka. Pramuka secara rutin diadakan hari Kamis siang, hari terakhir sekolah karena Jumatnya libur. Otomatis Pramuka menjadi ajang kami mengobati kepenatan selama seminggu dan menjadi hiburan akhir pekan yang menyenangkan. Maklum saja, saat Pramuka kami menyanyi, bermain game, mendapat keterampilan, diberi tantangan dan semua itu menjadi obat bagi kami.

Aku tidak mau jadi anggota Pramuka biasa. Saat duduk di kelas 2 Tsanawiyah, aku mengikuti ujian untuk menjadi anggota khusus yang saat itu bernama DKK (Dewan Kerja Koordinator). Pasukan ini menjadi 'anak emas'nya Pramuka karena selalu ikut dalam berbagai event serta mendapat latihan keterampilan yang jauh lebih intens disbanding anggota biasa. It's WOW!
Setelah mengikuti ujian, akupun dinyatakan lulus sebagai anggota DKK. Wuuuah...

Sayangnya saat duduk di kelas 3, aku harus melepaskan DKK karena kesalahanku sendiri. Ya, waktu itu ada Lomba Tingkat I (LT I) yang mana salah satu uji mentalnya bernama Jeritan Malam, semacam jurit tapi horornya minta ampun! Di malam sebelumnya aku sudah mengikuti Jejak Kasus yang diikuti oleh kelompok, tapi Jeritan Malam harus dihadapi sendiri-sendiri. Karena merasa nggak cukup berani akhirnya aku kabur dari LT I dan malam itu aku sembunyi di kamarku sendiri karena ketakutan. Akhirnya aku tidak ikut LT dan esoknya memilih masuk kelas seperti teman-teman lain. Konsekuensinya adalah keanggotaanku dicabut karena dianggap pengecut. Aku siap dan mengambil konsekuensi ini sebagai bentuk tanggung jawabku.

Aku dikembalikan ke MD 12 (kelompok kecil latihan) tempat aku menjadi anggota biasa dahulu. Tapi disinilah semua bermula... Justru saat dikembalikan ke MD, aku malah bisa menjadi pemimpin di antara teman-teman serta sering mencetuskan ide-ide untuk latihan kami. Otomatis aku kembali aktif bahkan jauh lebih produktif ketimbang di DKK dulu. Ahh, kita justru akan menjadi kuat dengan masalah :')


Foto bersama Pengakap Malaysia
 Tak sampai setahun, di akhir kelas 3 aku mengikuti seleksi Peserta Jambore Nasional Malaysia ke-11 atau yang disebut Jambori Pengakap. Banyak pendaftar yang ingin mengikuti event ini, apalagi dibuka untuk 3 angkatan. Bayangkan, aku nyaris putus asa karena yang diambil hanya 11 orang saja. Akhirnya, pada suatu malam *eciee* ada 11 nama yang dipanggil ke ruangan Mabikori dan... Yes! Aku lulus beserta 10 teman lainnya. Setelah proses panjang mulai dari pembuatan paspor, visa, izin sekolah sampai persiapan perlengkapan, berangkatlah kami dari Belawan untuk mengikuti Jambori Pengakap ke-11 di Hutan Lipur Ulu Bendol, Negeri Sembilan.
Jumat, 08 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Biola


Hatiku biola
Yang senarnya dijalin dari langkah-langkah seekor ulat sutera
Sedang kau ingin berbahagia
Dengan suara yang kuhasilkan
Lantas kau mulai menggesekku
dengan sebuah samurai perawan
Jangankan lantunan
Karena kau hanya akan mendengar rintihan
-Kamar, menyampaikan makna- 
Rabu, 06 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Pacaran, Gladi Resik Gejolak Rumah Tangga

Pacaran, siapa sih yang enggak kenal istilah ini?
Mau pelaku ataupun non-pelakunya pasti kenal dan paham benar soal pacaran.

Tapi tahukah?

Pacaran yang katanya berproses sebagai penjajakan pra nikah justru berlaku sebaliknya. Menurut kacamata aku, pacaran justru masa menjadi gladi resik gejolak berumahtangga.
Ada banyak kasus dimana orang yang berpacaran sangat lama malah bercerai dengan sangat cepat setelah menikah. Pacaran 7 tahun, tiba nikah cuma 7 bulan...
Zaman pacaran katanya cinta, pas udah nikah kemana cintanya?
Padahal yang perjuangan dan pengorbanannya lebih besar adalah menikah kan?

Hmmm, buka pikiran dan jalankan logika!
Sadar nggak sih kalau pacaran itu sangat mengganggu keberlangsungan pernikahan?
Ada banyak kasus dimana pacaran mengganggu pernikahan dan kisah-kisah ini aku himpun dari orang-orang terdekat yang mengetahui ataupun mengalaminya sendiri.
Sabtu, 02 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Akumulasi Perasaan

Aku memulainya dengan usaha keras membuka tulisan ini, entah untuk jujur, entah untuk merangkai kata yang manis. Tapi sepertinya tidak, sebab aku hanya ingin terapi.
Ya, lagi-lagi... Karena menulis adalah terapi jiwa.

Ini adalah akumulasi perasaan setelah sekian lama menahannya. Bukan, lebih tepatnya menyamarkannya. Sebab aku tak pernah secara jujur mengungkapkannya kecuali pada media yang sekiranya tak dapat diketahui orang lain.

Baik.
Aku memulainya dengan sebuah usaha move on dari seseorang yang setelah 1,5 tahun kuperhatikan tapi berakhir dengan suatu keputusan untuk move on. Seseorang yang bahkan tidak bisa menyadari keberadaanku, jelas saja karena akupun tak pernah menunjukkan diri di hadapannya. Cinta dalam diam? Tidak. Tapi cinta jalan di tempat. Aku tidak terlalu berani soal yang satu itu, perkara menunjukkan perasaan bahkan sekedar melempar kode.

Januari 2014. Finally it's done! Aku sudah menyelesaikannya. Aku jenuh, sebab aku tidak mendapatkan manfaat apapun dari masa-masa itu. Yang ada justru gelimang kegelisahan. Jelas saja, sebab perasaan kepadanya justru memperburuk hubunganku dengan Sang Penguasa Perasaan, Allah.

Selesai dengan masalah itu aku berniat untuk tidak lagi bermain hati. Takut... Sebab zina hati merusak lebih parah. Bagaimana nasib Mr.Right, imamku nantinya? Ahh, dia tak boleh mendapat sisa! Termasuk sisi-sisi hati ini, dia pemilik seutuhnya setelah Allah halalkan kami. Sabarlah...
Dalam proses ini aku menemukan kembali seseorang yang entah bagaimana ceritanya tampak menarik di mataku. Menemukan kembali? Ya, sudah pernah bertemu, berpisah dan bertemu kembali.

Jeratan Masa Lalu

 
Masa lalu...
Ahh, kata orang tak mesti dibahas. Tak wajib diungkit pula
 
Masa lalu itu bisa menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bisa bercermin darinya. Betapapun buruknya masa lalu, yang paling penting adalah bagaimana meninggalkannya dan memperbaikinya untuk masa yang akan datang.
Tapi bagi orang-orang yang masa lalunya masih membayangi, ia tak ubahnya jerat yang membuat kaki tak dapat melangkah ke depan.
 
Jadi menurutku sebelum kau jauh melangkah, lepaskanlah semua jerat masa lalu itu. Kalau tidak, kau hanya akan menjadi rekanan keledai sebab terjatuh ke lubang yang sama dua kali!

Memenangkan Hati

Lebaran sudah usai, Idul Fitri telah kita lewati
Selamat menjadi pemenang!!!
...bagi yang lulus ujian Ramadhannya :)

Salah satu sebutan bulan Ramadhan adalah syahrut tarbiyah (bulan pembelajaran) jadi Ramadhan itu adalah masa belajar intensif biar lulus di Syawal dan menjadi pemenang.

So, apa yang harus kita menangkan?

Salah satunya adalah HATI.
Ya, selama sebulan kemarin kita sangat menjaga hati. Kita tekan segala nafsu yang dapat membatalkan pahala puasa. Selain nafsu makan dan minum juga nafsu lain yang sekiranya bisa merusak ibadah puasa.
Pembiasaan itu sekiranya bisa dilanjutkan ke 11 bulan ke depan.
Kalau kemarin-kemarin bisa nahan diri dari marah, hasad, mengumpat, menggosip dan sejenis keburukan lainnya, berarti kebiasaan inilah yang harus diteruskan.
Apa gunanya Ramadhan kalau kualitas diri tak jauh lebih baik?
Apa gunanya Ramadhan kalau kesalahan masa lalu masih terulang juga?

Selamat memenangkan hati!
Senin, 14 Juli 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Negeri Lapar Ayah

Negeri Lapar Ayah,
Istilah ini pertama kali aku dengar waktu audisi Hafizh Quran di Medan, ada salah seorang juri yang fokus pada fathering, yaitu Ayah Irwan (tentang beliau lebih lanjut cek di >>
http://ayahuntuksemua.wordpress.com/ )

Aku mungkin belum kredibel untuk bicara ini, tapi tulisan ini aku buat ketika menyadari ada betapa banyak anak-anak yang kehilangan peran sekaligus sosok ayahnya. Yang paling dekat adalah anak didikku di sebuah Taman Kanak-Kanak.

Waktu itu pelajaran melukis, anak ini sebut saja namanya A. Aku minta A untuk menggambar anggota keluarganya. Secara berurutan ia gambar Bundanya, Eyang laki kemudian Eyang perempuan dan terakhir dirinya sendiri. Selanjutnya aku minta lagi dia untuk menggambar tema yang sama, dan ia kembali menghasilkan objek yang sama. Sebuah gambar, tanpa sosok Ayah. Aku tidak berani bertanya langsung ke anak tersebut, jadi aku tanyakan ke gurunya. Ternyata ayah si A ini bekerja di tempat yang cukup jauh, sehingga LDR-an dengan keluarga.

Ada juga cerita yang cukup miris, masih dari muridku. Ia ditanya siapa yang mengajarkannya Al-Qur'an. Ia hanya jawab Bundanya. Oleh sang penanya, ia ditanya tentang ayahnya. Jawabannya mengejutkan,
"Saya enggak punya ayah, saya punyanya Bunda sama nenek sama kakek"
Mungkin semua orang yang berada di tempat itu mengira anak ini sudah tidak berayah.
Kita salah! Ayahnya ada, tinggal bersama dia, dalam satu rumah, berama ibunya. Tapi apa masalahnya? Ayahnya hanya perduli pada karir, kalau punya waktu libur justru cari kesibukan sendiri, sehingga tidak punya waktu bersama anak-anak. Menyedihkan.