Sabtu, 21 Maret 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Jarak

Kita berhutang hikmah pada alam semesta. Belajarlah kita pada alam semesta yang telah mengajarkan bahwa jarak tidak selalu buruk.
Bukankah jarak yang telah mengikat planet-planet dalam orbitnya masing-masing? Lalu tak ada yang protes hanya karena jauhnya jarak yang mereka punya. Berjuta-juta tahun lalu sampai dengan hari ini, sedikitpun Tuhan tidak mendekatkan jarak mereka. Yang kita saksikan kini hanya satu, mereka tetap bersama.

Tuhan jadikan jarak ribuan tahun cahaya tidak lain untuk menjaga mereka. Apakah kita tidak berpikir seandainya pinta matahari ingin mendekat kepada bumi dikabulkan Tuhan? Hancurlah semua terbakar! Dan satu unsur alam raya telah kehilangan keseimbangannya.

Begitulah jarak.
Jika pun hitungannya dalam milimeter maka atas keinginan Tuhan, percayalah bahwa titik dua seperti ( : ) pun takkan bisa bertemu.
Pun dalam hitungan yang tak bisa dijamah angka, jika Tuhan mau maka percayalah bahwa bumi akan mengkerut dan memendekkan jaraknya.

Selasa, 17 Februari 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Dialog dengan Ayah

Hujan.
Seorang gadis duduk di dalam mobil bersama ayahnya, keduanya melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti dibahas di rumah. Pertanyaan dari seorang kerabat kepada gadis itu, bagaimana mungkin menikah tanpa pacaran.

"Ayah, bagaimana kami harus diambil dari Ayah satu hari nanti? Kenapa banyak yang heran karena kami tidak pacaran? Kesannya gak laku gitu ya?"

"Ayah dan Ibu justru bahagia kalian tidak pacaran. Karena nantinya justru makin susah nyari yang seperti kalian ini. Mereka yang sudah pernah pacaran biasanya terikat dengan kenangan masa lalu. Banyak teman-teman Ayah yang kehidupan pernikahannya tidak bahagia perkara mantan-mantan di masa lalu. Lihat yang suka gonta-ganti pacar seperti si fulanah itu, secara mental dia sudah rusak."

"Terus bagaimana mempertemukan dia kepada Ayah?"

"Datanglah sebagai lelaki yang jantan dan lakukan mengikuti tuntunan agama. Dulu Ayah dan Ibumu memang belum begitu dalam mempelajari agama sehingga tidak mengenal ta'aruf seperti sekarang ini. Kami mungkin sempat berpacaran tapi ketika sekarang kami sudah memahami agama, kami harap itu dilakukan oleh anak-anak kami. Kami bahagia sekali, sekalipun bukan tangan kami yang melarang kalian pacaran tapi kalian menemukan sendiri kenapa tidak pacaran."

"Apa alasan Ayah memilih Ibu dahulu?"

"Banyak yang bertanya kepada Ayah kenapa dari sekian perempuan cantik di sekitar Ayah justru memilih Ibumu yang biasa saja. Ayah melihat kebaikan hatinya, karena kebaikan hati akan memancarkan kecantikan wanita seutuhnya. Ayah percaya Ibumu perempuan yang baik. Itu yang membuat Ayah selalu merindukan Ibumu"

***

Gadis yang duduk bersama Ayahnya itu kini berbaring di sampingku, di atas kasur tempat kami melepas lelah setiap malam. Dia menceritakan semuanya...

"Begitulah ceritanya tadi, Kak..." tutupnya.

-bersama Adik, di atas kasur-

Selasa, 30 Desember 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Makhluk Aneh

Kehidupan di masa akan datang senantiasa menjadi misteri
Maka manusia adalah makhluk aneh yang berani menjalani hidup tanpa tahu apa yang terjadi ke depannya

Wajarlah iman menjadi barang mahal
Karena ia satu-satunya pegangan menjalani hidup yang abu-abu
Meyakini bahwa jalan kehidupan telah diatur oleh Allah tanpa memungkiri terjalnya proses yang mengarah kepadanya

Sekali lagi manusia adalah makhluk aneh
Jangankan kehidupan esok hari
Satu menit mendatang ia pun tak tahu apa yang akan terjadi
Usahanya hanyalah tetap bertahan hidup dan menyembah Sang Pemilik Kehidupan

Tuhan adalah jawaban
Iman ialah kekuatan
Bagi segenap makhluk aneh seperti kita

Kamis, 25 Desember 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Kisah Cinta 25 Desember

25 Desember adalah tanggal spesial di keluarga kami.
Alasannya?
Karena pada tanggal itu Atok dan Nenek memperingati hari jadi mereka dan hari pernikahan mereka. Wihiy~
Atok lahir pada 25 Desember 1931 dan Nenek pada tanggal 25 Desember 1937. Keduanya menikah pada 25 Desember 1958. Dan keduanya sempat merayakan pernikahan emas (50 tahun) pada tahun 2008 lalu. Tapi belum sempat sampai pada perayaan ke 51, Atok lebih dulu berpulang ke rahmatullah pada April 2009.

Separuh jiwanya hilang.
Mungkin itu yang nenek rasakan, karena setelah kepergian Atok kesehatan nenek pun terus menurun sampai saat ini. Semasa hidup nenek memang sangat mengurusi atok, terutama karena Atok menderita parkinson dan sakit paru-paru.

Tapi bukan itu yang paling menarik menurutku. Kisah cinta keduanya bak Cinderella story.

Nenek hanyalah anak yatim penjual pisang yang hidup dalam keterbatasan. Tapi semangatnya membuat nenek bisa menjadi guru di usia 14 tahun.
Sedangkan atok adalah anak seorang walikota Siantar (saat itu) yang hidup dalam kecukupan bahkan lebih.

Atok kemudian masuk asrama pendidikan guru, disanalah keduanya bertemu.
Hidup di asrama membuat atok jauh dari kehidupan mewah yang didapati saudara-saudaranya yang lain. Sehingga memulai kehidupan yang sangat sederhana bersama nenek.
Layaknya di sinetron, atok juga mengalami penolakan dari orangtuanya yang menginginkan pasangan dari strata yang sama. Kalau di India, udah ga bisa nikah nenek sama atok ini hehehe...

Tapi kehidupan membuktikan bahwa apa yang melandasi sebuah hubungan akan menentukan bagaimana hasil dari apa yang diniatkan itu.
Nenek adalah guru bagi atok. Atok yang awalnya tidak dekat dengan agama kemudian diajari nenek sholat dan mengaji. Atok yang tidak terbiasa bekerja sendiri diajari nenek bertukang sehingga terampil membuat perabot. Atok juga diajarkan menjahit sehingga jago menjahit pakaian. Sederet keterampilan lain juga diajarkan nenek untuk memampukan Atok.

Penolakan itu tetap terasa dalam pernikahan nenek dan atok. Tak jarang anak-anaknya (mamak dan saudara-saudaranya) mendapat perlakuan yang berbeda. Tak perlu disebut seperti apa, tapi kalau dijadikan sinetron cukup menyedihkan sebenarnya.

Kisah ini pernah aku tuliskan dalam sebuah draft novel tentang cinta nenek dan atok, tapi sampai sekarang belum juga selesai kutuliskan. Semoga satu hari nanti bisa diselesaikan...

Satu pelajaran yang nenek ajarkan adalah :
"Jadilah laut yang menerima semuanya. Air yang bersih, air yang kotor, air hujan. Tapi laut akan selalu mengembalikan kebaikan, ikan yang sehat dan air yang bersih"

Saat kisah ini diceritakan kepadaku, aku merasa bahwa takdir baik telah mempertemukan Atok dan Nenek.
Bersedia untuk saling menghebatkan dan dihebatkan.
Berjuang bersama-sama dalam kehidupan :')

Terima kasih untuk kisah cinta yang menginspirasi ini Tok, Nek...
Terima kasih sudah mengajarkan cinta dalam kehidupan, kini kami melihat hasil dari apa yang telah kalian perjuangkan, kami juga telah merasakan cinta yang kalian jalin dalam keutuhan rasa.

Selamat ulang tahun ke-83 Atok, semoga Allah menempatkan Atok di tempat terbaik
Selamat ulang tahun ke-77 Nenek, semoga lekas sembuh dan bersemangat kembali
Selamat hari pernikahan ke-55, semoga dipersatukan kembali di JannahNya dalam cinta sebenar-benar cinta.

:')

Akhirnya Seminar Juga

"Akhirnya seminar juga ya, Put..."
Begitu yang teman-teman katakan saat kukabari akan seminar proposal.

Ya ya, dibanding dengan teman seangkatan aku memang cukup terlambat untuk seminar proposal. Pernah cuti satu semester saat karantina DMP membuatku harus mengejar ketertinggalan. Ditambah lagi anak gadis satu ini punya kerjaan sampingan yang seabrek-abrek. Jadilah proposal yang sudah disetujui sejak September itu harus diselingkuhi sementara waktu karena mengerjakan ini-itu dahulu.
Setelah pekerjaan itu selesai, barulah jiwa raga ini *ceileh* bertekad besar untuk menyelesaikan kuliah dengan segera.
Ya, tentunya ada banyak hal yang harus dikejar lagi setelah menyelesaikan studi ini.

Jadilah aku mengisolasi diri. Puasa medsos, 'ngerumah' dan menghentikan aktivitas sejenak. Akhirnya proposal itu pun selesai. Setelah beberapa kali menemui Dosen Pembimbing (Doping) akhirnya aku dinyatakan boleh seminar.

Jum'at, 19 Desember 2014
Sekitar pukul 4 sore, proposal di-acc. Permasalahan selanjutnya, kapan mau seminar?
Doping memberi tawaran tanggal 29 atau 30 Desember. Akupun cek ruangan dan membooking tanggal 29 untuk seminar. Terus pas laporin ke temen, dia bilang "Siapa yang mau datang seminar? Itu kan udah libur..."
Wadaw!!! Buru-buru aku menemui doping kembali sambil menunjukkan kalender akademik. Doping menawarkan untuk diundur sampai Januari 2015, setelah liburan. Duhai, rasanya kayak di-PHP Kim Heechul!!! *oke nggak ada hubungannya* Soalnya kalau sudah seminar, aku sudah mulai bisa mengerjakan penelitiannya kan?
Cerita punya cerita akhirnya dosen memberi tawaran baru, DIPERCEPAT. Dengan syarat aku bisa menyelesaikan administrasi beserta kebutuhan seminar lainnya. Tanggal yang disepakati 23 Desember, pukul 10.00 pagi.
Hekk! Aku cuma punya waktu 3 hari untuk menyiapkan semuanya. Akhirnya aku sanggupi.

Sore itu juga aku hubungi Kak Maya yang mengurus administrasi seminar ini, Alhamdulillah Kak Maya bilang bisa selesai satu hari dan itu hanya hari Senin. Karena pada Sabtu dan Minggunya sedang diadakan rapat kerja Departemen Komunikasi sehingga kantor Departemen tidak buka.
Oke, kami janjian Senin pagi.
Setelah itu aku menghubungi teman-teman yang bisa hadir sebagai peserta seminar, maklum kalau mahasiswa telat begini biasanya kawan-kawan seangkatannya udah nggak muncul di permukaan :D
Selain itu aku juga hunting konsumsi seminar.
Hari Sabtu aku mematangkan proposal, hari Minggu urus konsumsi, hari Senin urus administrasi dan berkas seminar plus slide presentasi.
Tiga hari yang luar biasa untuk seminar. Syukurnya dua teman dekatku Sofi dan Karina sudah seminar lebih dulu, mereka banyak memberi saran dan panduan *jiah* untuk seminar. Tenkyu~

Hari H, 23 Desember 2014
Pagi-pagi habis Subuh masih ngerjain slide. Habis itu segera berbenah untuk seminar. Aku langsung pasang rute. Rumah - beli kue untuk doping - ambil konsumsi peserta seminar - kampus - ambil berkas dan peralatan - ruang seminar.
Sendirian, Put?
Iya.
Hahaha...
Sok sok jago, padahal udah ditawarin temen temen butuh bantuan apa. Mikirnya, masih bisa ngerjain sendiri kenapa harus repotin orang lain?
Apa yang terjadi sodara sodara???
Repot.
Huahahaha... Terutama ngebawa konsumsi yang banyak itu hanya bermodalkan si Bebeb, kendaraan roda dua yang selama ini menemani. Mungkin aku keliatan kayak Spiderman nyiapin hajatan! :D Sampai kampus baru bingung gimana bawanya???
Akupun menghubungi si Pututupi, tidak berapa lama kemudian dia datang membawa si anak gadis kesayangan, Bagus. Hohoho, sangat terbantu sekali saudara-saudara...
Puput dan Bagus menghandle kebutuhan ruang seminar, sedangkan aku mengurus berkas dan peralatan seperti proyektor untuk presentasi.
Makasih ya... *hiks* *terharu*

Berpeluh-peluh Lala, bang...
Belum lagi high heels yang membuat kaki cangkeul karena lari-lari... T^T

Yang paling luar biasa memang masa persiapannya, karena presentasi dan diskusi ternyata hanya menghabiskan waktu sekitar 45 menit secara keseluruhan.

Hokay...
Jadi Praises to Allah, luar biasa sekali bantuanNya dalam studiku.
Keluarga, teman dan sahabat yang tidak henti bertanya "Kapan seminar?" dan itu sangat memotivasi, sodara-sodara...
Kru PIJAR, angkatan 25 'rumah lama' juga temen-temen satu stambuk yang masih menyempatkan diri untuk hadir...
Makasih semuanya...
Aku percaya, bantuan Allah lah yang menggerakkan hati dan langkah siapapun yang membantu proses ini.
Tanpa izin dan pertolonganNya, usah aku bukanlah apa-apa... :')

Semoga setelahnya dilancarkan semua proses sampai menyelesaikan studi ini dengan baik, benar dan tepat. Serta membawa ilmu yang berguna juga nantinya... Aamiin ;)

Setelah lulus mau ngapain, Put?
"Kita liat aja nanti..."
:D

Selasa, 02 Desember 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Puasa Medsos

Assalamu'alaikum semua...
Udah lama juga ya nggak update posting blog, hehe... Padahal calon tulisan baik di draft, di hape sampai di note sudah numpuk minta ditulis dan di-share *assik*

Puasa medsos.
Ya, mungkin beberapa waktu ke depan aku bakalan puasa medsos. Sekarang ini akun FB sedang dinonaktifkan, begitupun twitter, tumblr. dan blog ini akan segera menyusul.

Aku hanya sedang butuh waktu rehat, pasalnya medsos banyak mudharatnya belakangan ini. Salah satunya bikin candu. Ini nggak sehat banget untuk kesehatan jiwa, soalnya dikit-dikit cek medsos, dikit-dikit ngomong di medsos, hwoaah JENUH.

Hidup di dunia maya memang keras.
Kalau bukan kita yang cerdas, pasti tergilas.
Makanya aku merasa perlu puasa medsos beberapa waktu. Badan aja butuh puasa, jiwa juga harusnya begitu he he...

Tapi puasa medsos ini nggak lama-lama kok, hanya sampai seminar proposal untuk skripsiku selesai dilaksanakan. Soalnya untuk yang satu ini memang butuh fokus tinggi. Aku udah ketinggalan dari teman-teman terutama karena pernah cuti satu semester saat karantina Dai Muda dulu, hehe...

Jadi kalau dalam seminggu ini urusan seminar sudah kelar, insyaAllah akan diaktifkan lagi termasuk blog ini.

Sekalian sih minta doa dari teman-teman semua biar proses pengerjaan skripsi ini lancar, segera sidang dan wisuda.
Setelah wisuda, Put?
Ahh, kita liat nanti aja. Hahaha...

Semoga Allah mudahkan semua jalan menuju goal terakhir dari pendidikan di perguruan tinggi ini.

S.Ikom...
Aamiin...
Senin, 17 November 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Setelah 3 Tahun Berlayar Bersama Kapal Layar...

Kapal Layar.
Nama yang kupilihkan untukmu. Dari dulu, dari dulu sekali sejak masih duduk di bangku SMA aku berkeinginan punya blog pribadi yang diberi nama Kapal Layar.

Kudapati foto-foto dimana aku menulis kata Kapal Layar untuk situs pribadiku nantinya.

Mungkin dari berbagai alat transportasi, kapal adalah yang paling menarik untukku. Sedari kecil, aku suka sekali melihat desain kapal-kapal dengan layar-layar besar yang terpancang di tiang-tiang yang tinggi. Semakin rumit desainnya, semakin suka aku melihatnya.
Kekagumanku pada kapal bukan tanpa alasan.
Sebuah kapal dirancang sedemikian rupa untuk bisa mengambang di permukaan, padahal material pembangunnya tidaklah ringan. Untuk mengerjakannya dibutuhkan usaha besar dari banyak orang. Ya, banyak orang bahkan orang yang mungkin tidak ahli pada bidangnya.

Saat berlayar, tampak pula kegagahannya mengarungi kedalaman laut yang misterius dan jarak yang tak terukur pula. Penggeraknya hanyalah angin, ombak dan kekuatan kemudi sang nakhoda.
Sebuah filosofi hidup yang luar biasa...

Dulu, tiada akses untuk membuat blog pribadi tapi setelah tamat dan sudah punya akses tak kunjung kubuat juga. Alasannya, belum bisa.
Sampai pada suatu hari setelah eliminasi dari Dai Muda Pilihan, ustadzku menyarankan untuk punya sarana berbagi tulisan. Tak ayal, langsung kubeli sebuah buku panduan membuat blog dan mengeksekusinya.

November 2011,
Kapal Layar hadir dengan tampilan sederhana dan belum ada tulisannya.
Berulang kali gonta-ganti template dan mengubah desainnya.
Postingan masih belum stabil dengan konsep yang belum jelas.
Well, lengkap sudah. Blog yang masih bingung mau diapakan.

Sekarang genap 3 tahun sudah Kapal ini berlayar.
Template dan desain yang sudah nyaman dipakai sehingga tidak diganti-ganti lagi.
Seperti tagline-nya, "Semakin jauh berlayar, semakin dalam mencari makna kehidupan" rupa-rupanya Tuhan kabulkan dalam kehidupan sesungguhnya.
Pertambahan usia, bertemu dengan orang-orang, mendapat pengalaman baru yang semuanya merupakan proses mencari makna kehidupan.
HIKMAH.
Begitu namanya. Bahwa kehidupan ini menawarkan berbagai hikmah yang harus terus kita ambil, jika tidak takkan berharga hidup ini. Karena Allah pun begitu menyayangi hamba-hambaNya yang pintar mengambil hikmah.

23630.
Statistik kunjungan nyang tertera di Kapal Layar saat postingan ini ditulis.
Tak muluk-muluk dengan jumlah visitor sebenarnya tetapi manfaat dari tulisannya adalah yang utama.
Maka bahagia sangat terasa manakala ada teman-teman yang bercerita bahwa dia mendapat pencerahan setelah membaca blog ini. Tak jarang mereka membantu share karena merasa mendapatkan manfaat, bukan paksaan. Kudapati juga teman-teman yang men-capture tulisan dalam blog ini sekiranya ia bermanfaat. Kuharap ianya menjadi tabungan di akhirat kelak, kata-kata yang akan menjadi saksi bahwa ia tidak digunakan untuk memaki, mencaci, memfitnah atau mengumpat tetapi digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat.

Selama 3 tahun bersama, terima kasih karena membantuku mengumpulkan keping-keping kebaikan yang akan kita bawa bersama ke hadapan Rabb-ku kelak. Jadilah investasi pahala yang tiada putusnya, Kapalku...

Allah, berikan aku dan mereka manfaat...