Rabu, 13 Mei 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Barbie Berjilbab, Potret Muslimah Kita

Muslimah.
Apa yang terbersit di pikiran kita saat mendengar kata ini?

Sejujurnya sebagai muslimah saya merasa miris dengan apa yang saya lihat saat ini. Adanya tulisan ini berangkat dari kekhawatiran saya tentang kondisi muslimah kita. Memang, saya hanyalah muslimah yang jauh dari kata sempurna, namun niatan saya berbagi berangkat dari perintah Allah :


“Oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat” (Al-A’la : 9)


Mungkin sebagian besar kita sudah hafal betul hadits yang menyatakan bahwa Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah. Namun kenyataannya, hadits ini tidak benar-benar diecamkan oleh muslimah kita sehingga banyak muslimah yang terjebak dalam usaha ‘memahalkan diri’ dengan jalan yang lebih banyak mendatangkan kemudharatan ketimbang manfaatnya.



Malam ini saya melihat salah satu kontes pemilihan muslimah (yang katanya) berbakat di salah satu televisi swasta. Kabarnya, ada adik se-almamater saya yang mengikutinya. Namun alangkah terkejutnya saya saat mendapati kontestan lain yang juga saya kenal. Mata saya terbelalak! Saya ingat betul siapa dia. Astaghfirullah... (semoga saya dilindungi dari perkara ghibah) saya melihat seorang kontestan yang tadinya merupakan salah seorang teman Facebook. Saya tidak ingat bagaimana kami bisa berteman. Tapi akhirnya saya remove akunnya karena terlalu sering mengupload foto seksi. Selain terganggu, saya juga tidak ingin menambahi dosa karena ketidakmampuan saya mengingatkan ia menutup auratnya. Dan hari ini, saya lihat dia berdiri sebagai (yang katanya) muslimah berbakat! Saya coba husnudzhon, mungkin dia memang sudah berhijab. Jadi saya cek kembali akun FBnya. Alangkah terkejutnya saya bahwa ia baru saja selesai mengikuti kontes kecantikan sejenis yang mendadahkan auratnya! Dan itu bukan hanya satu kontes saja! Dia bukan tertarik pada dunia modelling, tapi benar-benar berangkat dari dunia model. Hati saya mendidih dibuatnya.


Kontes muslimah-muslimahan ini sudah menarik buat saya pada awalnya. Pasalnya, hampir seluruh kontestan memiliki latar belakang modelling, fashion dan sebarisan ranah entertaiment lainnya. Sempat ada rumor bahwa kontestan dari kontes ini adalah model-model biasa (yang kesehariannya tidak berjilbab) kemudian ‘dijilbabin’ saat mengikuti kontes ini. Dan kemunculan seseorang yang saya ceritakan di atas tadi mau tidak mau membenarkan rumor tersebut.


Fatin
Ada dua hal yang saya soroti dalam kasus ini. Pertama, ada upaya komodifikasi muslimah oleh media. Muslimah dijadikan ‘barang populer’ yang tak lagi ‘eksklusif’. Upaya ini sudah terbaca saat fenomena “Fatin X-Factor” mulai booming. Dari awal saya sudah yakin dia juara. Bukan karena kualitas bernyanyinya, namun karena dia berjilbab. Saya yakin betul dia akan dijadikan sebagai ikon pembuka muslimah penghibur. Sebelum Fatin, saya juga telah menyoroti girlband Sunni yang mengikuti salah satu ajang pencarian boyband/girlband di salah satu televisi swasta. Bagi saya, kemenangan Sunni memiliki upaya yang sama dengan kemenangan Fatin. Sayangnya, Sunni tidak bertahan di panggung hiburan karena langsung hilang dari permukaan. Fenomena Fatin membuka muslimah lain untuk mengikuti kontes pencarian bakat sejenis.
Minggu, 19 April 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Menjaga

Biarlah yang dijaga tetap terjaga.
Menyerahkan segala urusan kepada Tuhan.
Semoga tumbuh subur dalam hati buah keikhlasan.
Semoga tetap gembur hati yang dicurahi hidayah.
Proses menjaga memang tak mudah.
Tapi bagi segala sesuatu yang tidak mudah, Tuhan telah sediakan ganjaran melimpah ruah.
Semoga.

Sabtu, 18 April 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Lelaki Pemangsa Rupa dan Perempuan Penjaja Rupa


Dibaca dulu yaa...

Tulisan di atas merupakan tulisan seorang teman saya, sedikit banyaknya tulisan ini memberikan gambaran tentang banyaknya wanita yang berlomba-lomba mempercantik fisik saat ini. Bisa kita lihat betapa menjamurnya produk-produk kecantikan yang harganya selangit, alat kecantikan yang semakin variatif. Satu lagi, yang ingin cantik instan dengan modal ringan, aplikasi Camera360 dan B612. Hahaha... Kenapa saya tahu? Karena iklannya lalu lalang di mukabuku! :D

Nah, hal tersebut ternyata turut menyerang perempuan-perempuan berhijab. Lihat saja, berapa banyak perempuan yang mengupload foto selfie-nya lebih dari 5 kali sehari! Ngelebih-lebihin sholat wajib aja nih... Dan faktanya lagi, perempuan-perempuan itu BER-HI-JAB! Woww...

Populasi orang cantik makin banyak, variasi cantiknya pun beragam. Ada yang tampang bule, tampang oriental sampai tampang Arab. Tampang terigu? (itu Tepung Terigu -__-“)

Sayangnya, kecantikan fisik tadi tidak diikuti dengan kecantikan akhlak.

Nih, saya pernah mendapat cerita seorang ikhwan yang awalnya melihat akhwat yang disukanya sebagai sosok sempurna. Namanya aja udah suka, dialah serigala-galanya ehh... segala-galanya. Sampai suatu hari ‘borok’ si akhwat pun terbongkar, ternyata kecantikan rupa yang dimilikinya tidak sebanding dengan kecantikan akhlaknya. Pada akhirnya si ikhwan ngomong apa?

“Saya Illfeel, akhwat apaan tuh?”

Tuh, syukurnya belum sampai ke jenjang pernikahan. Kalau sudah menikah, inilah yang nantinya jadi penyesalan karena salah memilih pasangan. Ujung-ujungnya nyanyi deh...

“Aku tertipu, aku terjebak, aku terperangkap muslihatmu...” (Hello)

Banyak sekali kasus dimana para lelaki merasa tertipu dengan perempuan yang mereka pilih. Bagus di kulit, borok di isi.

Salah siapa?

Nah, mari kita lihat tulisan di atas.
Sebenarnya kondisi ini seperti dua sisi mata uang (atau semacam hukum ekonomi ya?)

Populasi Perempuan Penjaja Rupa tumbuh subur seiring tingginya permintaan dari Lelaki Pemangsa Rupa. Perempuan-perempuan yang tidak diterima hanya karena mereka tidak cukup cantik akhirnya membalas dendam dengan cara mempercantik diri. Bagus sih, tapi yang tidak bagus adalah jika akhlak lupa diikutsertakan dalam perbaikan.

Pasalnya begini, saya mengenal beberapa orang yang tadinya penampilannya biasa-biasa saja. Kemudian ketika dia berubah lebih cantik kok yoo malah lebih parah ya kelakuannya? Yang dulu gemuk sekarang langsing, pake baju ketat kurang ketat, pendek kurang pendek biar nampak bodinya yang kini sudah aduhai. Yang dulu kulitnya gelap sekarang terang, uwaduh! selfie sekian puluh kali sehari dan di-share di berbagai media sosial. Yang paling parah, ada yang dulunya berhijab dan sekarang membuka hijabnya hanya karena sedikit lebih cantik dari sebelumnya. Plak! Weleh, weleh...

Populasi Lelaki Pemangsa Rupa tidak lantas kita lupakan. Semakin banyaknya pilihan wanita cantik dengan berbagai fitur tadi, berlomba-lombalah para lelaki mengejar yang cantik. Namanya juga banyak pilihan... Tapi kecantikan itu kan tidak ada ukurannya. Akan selalu ada yang lebih cantik dan lebih cantik lagi, akan selalu ada yang lebih seksi dan lebih seksi lagi, lalu si laki-laki tidak akan berhenti menjadi pemangsa rupa sampai ladang gandum ketumpahan coklat dan jadilah Coco Crunch!

Ehm, oke baik. Kita lanjutkan...

Nah, berangkat dari kegelisahan melihat fenomena ini, saya pengen berbagi ilmu, pengalaman, inspirasi dan sharing bersama saudara-saudari di :



1000Foundation and Hijabers USU present
“SHARE AND BEAUTY”
Sabtu, 25 April 2015
Start from 13.00 WIB
Aula Fakultas Kedokteran USU
Performance by DOSN Band, KBSM, anak-anak Sekolah Nelayan, Tutorial Hijab Syar’i by Hijabers USU
Ticket presale : 30k
Ticket OTS : 40k
Include Goodie Bag WARDAH, snack dan sertifikat
5k dari ticket akan disedekahkan lewat 1000Foundation untuk pendidikan.
More info :
Debby : LINE : debbykaa
Upen : 758D9351

Saya tidak sendirian, akan ada Ustadz Asep Fakhri (Inspirator Perubahan, IDEAKU Inspirator Center, personal development trainer) yang akan berbagi inspirasi tentang SEDEKAH.
Oia, acara ini terbuka untuk muslimin dan muslimat loh...

Biar kamu para muslimah nggak terjebak jadi Penjaja Rupa, dan nggak lebih sibuk urusan mempercantik diri ketimbang akhlak, kamu harus hadir di acara ini.

Biar kamu para muslimin juga nggak tertipu dengan tampilan saja, nih, baiknya kamu hadir ke acara ini untuk tahu langsung. Biar kamu-kamu juga nggak jadi 'korban' dari 'kerakusan' memangsa rupa.

Oke, see you ikhwah fillah... ^^

Senin, 13 April 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Peperangan Paling Sulit

Mari kuberitahu peperangan yang paling sulit.
Bukan perang dunia. Bukan perang saudara. Bukan perang Timur dan Barat.
Peperangan ini...

Antara PERASAAN dan LOGIKA

Kedua kubu ini seringkali ribut, entah saling menimpali, entah saling konfrontasi.
Sekali waktu keduanya bertukar peran. Jadi malaikat, jadi setan. Jadi setan, jadi malaikat.
Selalu. Tidak pernah kompak.

Perasaan sering mendayu-dayu, menawarkan pernak-pernik kehidupan yang senantiasa lekas dihadang logika.

"Ikuti saja hatimu, aku ini bagian dirimu yang paling lembut," Perasaan mencoba merayu.
"Heh! Realistis lah! Hidup tidak selalu indah!" Logika cepat-cepat menentang.
"Tapi hidup juga soal rasa..."
"Halah, hidup butuh realita saja..."

"DIAM!!!"
Aku berteriak.

Kali ini keduanya kompak.
Kompak membandel, enggan mengikuti perintah empunya.
Kompak melahap raga, dalam satu badan yang mereka tinggali bersama.

Begitu, terus begitu.
Kapan kalian bisa berdamai?!

Seseorang memberiku pesan,
"Damaikan keduanya," ujarnya.

Aku masih mencari cara.
Dan keduanya masih enggan berdamai.

Jumat, 03 April 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Jika Harus Memilih

Jangan memilihnya karena harta yang ada padanya.
Ketahuilah sewaktu-waktu ia bisa sirna.
 
Jika ada, sadari harta bisa habis.
Jika tiada, yakini harta bisa dicari.

Bahkan semut punya rezeki, bahkan setan yang membangkangi Tuhannya masih diberi kesempatan hidup.
Allah Maha Kaya, rezeki berhamparan di seluruh penjuru bumi.
Kalau masih juga kau pilih karena harta, siap-siaplah mati rasa saat harta tiada. 


Jangan memilihnya karena rupa yang ada padanya.
Ingatlah bahwa suatu hari kita akan menjadi tua.

Jika pilihanmu melekat pada rupa, luruhlah rasa seiring kita menua.
Bayangkan suatu hari nanti raganya tak lagi bugar, tak lagi kokoh, tak lagi indah dipandang, tak lagi kuat, tak lagi berdaya.
Jika rupa yang mengikat rasa, maka keriputlah yang akan membunuh rasa.
Rabu, 01 April 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Ada Laki-Laki

Ada laki-laki yang dipilih karena hartanya
Ada laki-laki yang dipilih karena titelnya
Ada laki-laki yang dipilih karena nasabnya
Ada laki-laki yang dipilih karena pekerjaannya
Ada laki-laki yang dipilih karena rupanya

Dan.

Ada laki-laki yang tidak dipilih karena ketiadaan hartanya
Ada laki-laki yang tidak dipilih karena tiada titelnya
Ada laki-laki yang tidak dipilih karena nasab yang biasa
Ada laki-laki yang tidak dipilih karena pekerjaannya
Ada laki-laki yang tidak dipilih karena rupanya

Ada perempuan yang sakit saat tahu ada laki-laki yang dipilih dan ditinggalkan hanya karena embel-embel dunia yang menyertainya.

"Tidak, laki-laki bukan dipilih karena itu..." airmatanya mengalir.

Ada perempuan yang membenci perempuan yang telah memilih atau meninggalkan laki-laki karena embel-embel dunianya.
"Sesuatu yang tulus seharusnya tidak disandingkan dengan kebodohan semacam itu..."
Senin, 30 Maret 2015 | By: Putri Rizki Ardhina

Mencintai Berarti Berhenti

Mencintai berarti berhenti.
Berhenti membanding-bandingkannya dengan yang lain karena para pecinta harusnya sadar tidak ada yang sempurna. Setiap orang yang menjadi dirinya sepaket sudah bersama kelebihan dan kekurangan yang menyertainya.
Para pecinta yang suka membuat perbandingan sesungguhnya sedang merepotkan dirinya sendiri. Tentu membandingkan tidak akan pernah berhenti, akan kelelahan sampai mati.

Mencintai berarti berhenti.
Berhenti dan cukupkan. Ketamakan manusia hanya akan sampai kuburan.
Setelah sadar tiada yang sempurna, cukupkanlah dengan yang telah ada. Mencari-cari yang tiada sesungguhnya lebih melelahkan daripada memperjuangkan apa-apa yang ada.
Bukan tak boleh mencari yang terbaik, tapi lihatlah pada diri, sudahkah para pecinta menjadi yang terbaik?