Jumat, 05 September 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Honourable, Someone

Kepada Yth.
Seseorang

Saya telah mengenal anda sejak lama dan apa yang saya lihat kini adalah anda yang telah jauh berubah lebih baik. Bagi saya, perubahan baik haruslah dihormati dengan cara tidak mengajak kembali kepada kesalahan. Pun jika itu bukan kesalahan, sebutlah sebagai kekurangan, maka saya menghormati anda dengan mengajak anda untuk melengkapinya.

Saya menghormati anda, karenanya saya tak ingin mengajak anda melakukan kesalahan. Saya ingin anda menjadi orang baik untuk diri anda sendiri. Sebagai manusia mungkin kita tidak akan terlepas dari kesalahan, tapi anda harus melakukan yang terbaik untuk diri anda.

Unforgettable Story of Angkatan 25


Wisuda Izkie : Kiri ke Kanan (Rida, Linda, Rika, Izkie, Icha Sofi, Putri) minus Mengky

Ini adalah kisah kami sewaktu masih bersama-sama di satu organisasi Pers Mahasiswa SUARA USU. Setiap kali berkumpul kami selalu mengingat semua kisah-kisah lucu yang pernah kami jalani. Rasanya, menuliskannya adalah satu pilihan tepat untuk mengabadikan kenangan.

***

2010, semester pertama
Puluhan mahasiswa baru yang mendaftar sebagai calon anggota SUARA USU berjejer menunggu panggilan wawancara. Namanya saja anak baru, masing-masing sibuk mengurusi diri sendiri sebab tak banyak kenal dengan calon anggota lainnya. Aku pun sama, aku hanya bersama Sofie, teman sejurusan yang sudah lebih dahulu kukenal di bimbel. Siapa yang tahu, bahwa ini akan menjadi awal dari kisah indah kami...

Sisa-sisa sejarah : Rika, Linda, Mengky, Putri, Icha, Rida | Fotografer : Sofi
2010, magang
Setelah dinyatakan lulus tes wawancara, kami pun menjalani masa magang yang cukup panjang. Sekitar 4-5 bulan dengan berbagai tugas dan kewajiban. Awalnya kami tetap seperti saat pertama mendaftar, sibuk dengan diri sendiri karena tak kenal orang lain. Seleksi alam pun terjadi, satu-satu mulai berguguran. Ada yang datang lalu pergi tak kembali, ada yang pergi lalu datang kembali. Dan kami yang tersisa, tak tahu statusnya apa. Kadang muncul, kadang pergi. Yang jelas seleksi alam telah mempertemukan kami sebagai anak-anak magang yang... yang... emm gak tau bilangnya cemana :D

Kebiasaan Buruk
Setiap kali ngumpul kami selalu menceritakan kebiasaan-kebiasaan buruk kami sebagai angkatan paling bungsu (saat itu). Mulai dari masa magang sampai hampir punya adik angkatan, kelakuan kami tetep bikin ngenes pengurus.
Senin, 25 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Prinsip

Aku     : "Ustadz, ana berprinsip untuk bla..bla...bla..."
Ustadz : "Itu prinsip kamu? Yakin?"
Aku     : "Iya ustadz..."
Ustadz : "Kamu tahu, yang namanya prinsip itu enggak boleh sembarangan dibuat. Dan satu lagi, enggak boleh dilanggar..."
Aku     : "Kenapa ustadz?"
Ustadz : "Karena orang yang melanggar prinsipnya itu adalah orang yang gagal"
Aku     : "Alasannya?"
Ustadz : "Dia tidak bisa mengikuti keputusan yang sudah dia buat sendiri, berarti dia sudah kalah dengan dirinya sendiri..."

***

Itu sepotong dialog dengan ustadzku sewaktu di pesantren. Tentang prinsip.
Sampai hari ini masih kuingat dan kuecamkan dengan benar bahwa yang namanya prinsip tidak boleh dilanggar. Karena saat prinsip dilanggar, maka gagal sudah kita melawan diri sendiri.

Pertanyaannya kemudian, ada banyak prinsip yang nggak jelas asal muasalnya darimana. Misalnya gini :
"Pokoknya prinsip aku jelas, pengen punya pacar yang tajir abis!"
Prinsip begituan banyak didapati di FTV-FTV terdekat kan?

Nah prinsip yang kayak gitu biasanya mudah runtuh...
Ada beberapa alasan mengapa prinsip bisa dilanggar:
Kamis, 14 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Hari-Hari Bersama Pramuka


Salam Pramuka!
14 Agustus, Hari Pramuka
Ahh rasanya sudah lama tak menyentuhmu... Jadi izinkan aku berbagi kisah-kisah selama kita menjalani hari bersama itu...

***

Atok kami adalah seorang Pembina Pramuka yang sangat aktif. Berbagai event nasional sampai internasional pernah Atok ikuti. Bahkan Sibolangit yang jadi Bumper (Bumi Perkemahan) sekarang ini juga bagian dari usaha atok saat membukanya. Jejak Atok diikuti oleh anak-anaknya, termasuk mamak. Jadilah aku memiliki kesan yang sangat baik terhadap Pramuka. Apalagi waktu Atok meninggal pada 2009, rekan-rekan dan adika didikannya datang menggunakan seragam Pramuka dan menyebut Atok kami sebagai Atok Pramuka.

Pramuka, aku sudah mengenalnya sejak duduk di bangku SD. Ekstrakulikuler yang paling kucari dan paling ingin kuikuti tapi sayang waktu itu Pramuka hanya boleh diikuti oleh kelas 5 dan 6 saja. Jadilah aku menunggunya :D
Pramuka di SD itu kan untuk Siaga, jadi wajar saja kalau Pramuka SD banyak main-mainnya ketimbang keterampilan yang didapatkan di Penggalang atau Penegak. Tapi disinilah aku menemukan cinta pada Pramuka. Sayangnya Pembina kami waktu itu sempat berganti beberapa kali dan sedihnya lagi kami tidak bisa melaksanakan kegiatan outdoor hanya karena izin dari pihak sekolah. How pity...

Masuk pesantren Pramuka menjadi ekstrakulikuler wajib disana, semua orang harus ikut, suka atau tidak suka. Pramuka secara rutin diadakan hari Kamis siang, hari terakhir sekolah karena Jumatnya libur. Otomatis Pramuka menjadi ajang kami mengobati kepenatan selama seminggu dan menjadi hiburan akhir pekan yang menyenangkan. Maklum saja, saat Pramuka kami menyanyi, bermain game, mendapat keterampilan, diberi tantangan dan semua itu menjadi obat bagi kami.

Aku tidak mau jadi anggota Pramuka biasa. Saat duduk di kelas 2 Tsanawiyah, aku mengikuti ujian untuk menjadi anggota khusus yang saat itu bernama DKK (Dewan Kerja Koordinator). Pasukan ini menjadi 'anak emas'nya Pramuka karena selalu ikut dalam berbagai event serta mendapat latihan keterampilan yang jauh lebih intens disbanding anggota biasa. It's WOW!
Setelah mengikuti ujian, akupun dinyatakan lulus sebagai anggota DKK. Wuuuah...

Sayangnya saat duduk di kelas 3, aku harus melepaskan DKK karena kesalahanku sendiri. Ya, waktu itu ada Lomba Tingkat I (LT I) yang mana salah satu uji mentalnya bernama Jeritan Malam, semacam jurit tapi horornya minta ampun! Di malam sebelumnya aku sudah mengikuti Jejak Kasus yang diikuti oleh kelompok, tapi Jeritan Malam harus dihadapi sendiri-sendiri. Karena merasa nggak cukup berani akhirnya aku kabur dari LT I dan malam itu aku sembunyi di kamarku sendiri karena ketakutan. Akhirnya aku tidak ikut LT dan esoknya memilih masuk kelas seperti teman-teman lain. Konsekuensinya adalah keanggotaanku dicabut karena dianggap pengecut. Aku siap dan mengambil konsekuensi ini sebagai bentuk tanggung jawabku.

Aku dikembalikan ke MD 12 (kelompok kecil latihan) tempat aku menjadi anggota biasa dahulu. Tapi disinilah semua bermula... Justru saat dikembalikan ke MD, aku malah bisa menjadi pemimpin di antara teman-teman serta sering mencetuskan ide-ide untuk latihan kami. Otomatis aku kembali aktif bahkan jauh lebih produktif ketimbang di DKK dulu. Ahh, kita justru akan menjadi kuat dengan masalah :')


Foto bersama Pengakap Malaysia
 Tak sampai setahun, di akhir kelas 3 aku mengikuti seleksi Peserta Jambore Nasional Malaysia ke-11 atau yang disebut Jambori Pengakap. Banyak pendaftar yang ingin mengikuti event ini, apalagi dibuka untuk 3 angkatan. Bayangkan, aku nyaris putus asa karena yang diambil hanya 11 orang saja. Akhirnya, pada suatu malam *eciee* ada 11 nama yang dipanggil ke ruangan Mabikori dan... Yes! Aku lulus beserta 10 teman lainnya. Setelah proses panjang mulai dari pembuatan paspor, visa, izin sekolah sampai persiapan perlengkapan, berangkatlah kami dari Belawan untuk mengikuti Jambori Pengakap ke-11 di Hutan Lipur Ulu Bendol, Negeri Sembilan.
Jumat, 08 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Biola


Hatiku biola
Yang senarnya dijalin dari langkah-langkah seekor ulat sutera
Sedang kau ingin berbahagia
Dengan suara yang kuhasilkan
Lantas kau mulai menggesekku
dengan sebuah samurai perawan
Jangankan lantunan
Karena kau hanya akan mendengar rintihan
-Kamar, menyampaikan makna- 
Rabu, 06 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Pacaran, Gladi Resik Gejolak Rumah Tangga

Pacaran, siapa sih yang enggak kenal istilah ini?
Mau pelaku ataupun non-pelakunya pasti kenal dan paham benar soal pacaran.

Tapi tahukah?

Pacaran yang katanya berproses sebagai penjajakan pra nikah justru berlaku sebaliknya. Menurut kacamata aku, pacaran justru masa menjadi gladi resik gejolak berumahtangga.
Ada banyak kasus dimana orang yang berpacaran sangat lama malah bercerai dengan sangat cepat setelah menikah. Pacaran 7 tahun, tiba nikah cuma 7 bulan...
Zaman pacaran katanya cinta, pas udah nikah kemana cintanya?
Padahal yang perjuangan dan pengorbanannya lebih besar adalah menikah kan?

Hmmm, buka pikiran dan jalankan logika!
Sadar nggak sih kalau pacaran itu sangat mengganggu keberlangsungan pernikahan?
Ada banyak kasus dimana pacaran mengganggu pernikahan dan kisah-kisah ini aku himpun dari orang-orang terdekat yang mengetahui ataupun mengalaminya sendiri.
Sabtu, 02 Agustus 2014 | By: Putri Rizki Ardhina

Akumulasi Perasaan

Aku memulainya dengan usaha keras membuka tulisan ini, entah untuk jujur, entah untuk merangkai kata yang manis. Tapi sepertinya tidak, sebab aku hanya ingin terapi.
Ya, lagi-lagi... Karena menulis adalah terapi jiwa.

Ini adalah akumulasi perasaan setelah sekian lama menahannya. Bukan, lebih tepatnya menyamarkannya. Sebab aku tak pernah secara jujur mengungkapkannya kecuali pada media yang sekiranya tak dapat diketahui orang lain.

Baik.
Aku memulainya dengan sebuah usaha move on dari seseorang yang setelah 1,5 tahun kuperhatikan tapi berakhir dengan suatu keputusan untuk move on. Seseorang yang bahkan tidak bisa menyadari keberadaanku, jelas saja karena akupun tak pernah menunjukkan diri di hadapannya. Cinta dalam diam? Tidak. Tapi cinta jalan di tempat. Aku tidak terlalu berani soal yang satu itu, perkara menunjukkan perasaan bahkan sekedar melempar kode.

Januari 2014. Finally it's done! Aku sudah menyelesaikannya. Aku jenuh, sebab aku tidak mendapatkan manfaat apapun dari masa-masa itu. Yang ada justru gelimang kegelisahan. Jelas saja, sebab perasaan kepadanya justru memperburuk hubunganku dengan Sang Penguasa Perasaan, Allah.

Selesai dengan masalah itu aku berniat untuk tidak lagi bermain hati. Takut... Sebab zina hati merusak lebih parah. Bagaimana nasib Mr.Right, imamku nantinya? Ahh, dia tak boleh mendapat sisa! Termasuk sisi-sisi hati ini, dia pemilik seutuhnya setelah Allah halalkan kami. Sabarlah...
Dalam proses ini aku menemukan kembali seseorang yang entah bagaimana ceritanya tampak menarik di mataku. Menemukan kembali? Ya, sudah pernah bertemu, berpisah dan bertemu kembali.